Senin, 05 Maret 2018

As- Shobru

Deg... parman begitu terkejut mendengar bahwa yang dilahirkan istrinya ialah bayi yang cacat.
Di bagian tangan kanannya antara ibu jari dan jari kelingking menyatu, Dia hanya memiliki 2 jari di tangan kanannya. Lantas parman pergi meninggalkan istri dan anaknya. Ia sangat kesal menerima semua ini.
 "Arrrghh... kenapa sih Allah tidak pernah mau ngabulin permintaan gue? Gue cuma pengen anak laki-laki, kenapa malah dikasih perempuan yang cacat sih? Katanya Alla Maha Kuasa? Mana?Tunjukin dong kekuasaannya.?Parman berceloteh sendiri tanpa ia sadari bahwa Allah telah murka terhadap apa yang ia katakan.
"Mas... mau dikasih nama apa anak kita?" Tanya istrinya dengan lembut.
"Anak kita? Heh, gue pernah bilang sama loh kali, gue gak mau punya anak perempuan yang cacat kaya dia. Ngerti loh!" Celoteh parman pada istrinya.
"Asstagfirullah. Istigfar mas Istigfar... Ini semua sudah ditakdirkan  oleh Allah. Ini semua amanat untuk kita, kita harus sabar nerima semua ini," jawab sang istri sambil menitikan air mata.
"Istigfar? Ngapain kita ingat Allah, emang Allah pernah ingat sama kita?" jawabnya dengan nada tinggi.
"Jaga ucapan mu mas!"
Belum selesai sang istri melanjutkan kalimatnya sudah dipotong oleh suaminya.
"Alah... terserah loh mau ngomong apa, yang pasti gue gak mau denger, gue udah pusing dengerin ceramahan loh."
Gubrak... (parman menutup pintu dengan keras).
6 Tahun Kemudian
"Fia... sini nak... bantuin ibu nak,"panggil ibu pada fia.
"Iya ada apa bu?" jawab fia mendekati ibunya.
"Tolang ambilkan  telur-telur dikulkas."
"Baiklah," jawab fia semangat.
Tak lama kemudian, Bruk... aku terjatuh Ayah menyenggolku dan telur-telur itu mengenai baju kerja ayah.
"Sial, gak becus banget sih... megang telur aja gak bisa... sini kamu!sini!" Ayah menyeretku ke dalam kamar mandi dan mengunciku.
"Ayah... bukain Yah." Aku menangis memohon.
"Mas kenapa sih dia mas? Kasihan dia mas" pinta ibu dengan baik. Tapi, parman malah meninggalkan mereka.
                                                                       * **
"Ayah... aku punya piala untuk ayah. Aku memenangkan lomba puisi di sekolahku," ujar Fia bahagia.
"Dasar bawel, sini!" Jawab ayah sinis. Lalu aku memberikan piala ku dengan senang hati. Tapi ayah malah mengijak pialaku.
"Ayah jangan yah, itu semua hasil kerjaku sendiri, aku berusaha semaksimal mungkin, tapi ayah tak pernah menghargai usahaku, salah apa aku padamu Yah?" Aku meronta-ronta menangis tak karuan. Seketika itu ayah terdiam dan meninggalkanku yang sedang menangis. Di mobil parman memikirkan kehidupannya. Tanpa ia sadari pengemudi motor melaju sangat kencang.
"Aaaaahh... " parman langsung membanting setir kesamping dan ia menabrak pohon besar.
Telelelet... bunyi telfon rumah, lalu ibu mengangkatnya.
"Iya dengan siapa dan ada apa yah? Tanya ibuku.
"Maaf apa ini ibu Fidia, istri dari bapak parman?"
"Ya, benar ada apa yah?" Lanjutnya
"Maaf, kami dari kantor polisi mengabarkan bahwa bapak parman kecelakaan di Jln. Tasikmalaya 12 dan di larikan ke RUSD."
"Oh baik pak saya akan segera kesana! Terima kasih atas informasinya" jawab ibuku dengan tergesa-gesa dan langsung menutup telefon, lalu mengajakku ke rumah sakit.
3 Hari Kemudian
Sudah tiga hari ayah di rawat dirumah sakit, ada benturan kecil dibagian jidatnya. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah mendingan. Aku terbangun saat malam ke empat, lalu aku mengambul air wudhu untuk melaksan akan shalat tahajjud.
Lalu aku berdo'a "Ya Allah, berikan kesembuhan untuk ayahku," ujarku lirih
Lalu ayah  pun datang membawa iar panas yang sudah mendidih  dan melaju ke arah ku lalu ibu berteriak.
"Cukup mas, cukup... apa yang akan kau lakukan pada anak kandungmu sendiri? apa salah dia mas, apa? Cukup jangan sakiti dia mas, siram aku saja mas! jangan siram malaikat ku yang tak berdosa." Ibu menangis tersedu-sedu. Ia tak kuat menahan semua derita putrimya. Cukup mereka merasa tersakiti selama ini.
"Silahkan kau berburuk sangka pada ku, dan asal kau tau bahwa air panas ini bukan untuk menyiram kalian. Melainkan  untuk memberi kehangatan pada kalian, kerena sekarang cuaca mereka terasa dingin. Aku tersadar wahai istriku dan anakku, bahwa aku banyak bedosa pada kalian. Terimalah kebaikan ku dan aku akan berusaha menjadi ayah dan suami yang baik untuk kalian."
Ayah langsung memeluk kami dan kami pun menangis karena terharu, tak menyangka semua semua akan terjadi seperti ini.

Ismah zakiya adalah santriwati kelas 3 mu'allimin asal bekasi (babelan), termasuk anggota qolami.

Tidak ada komentar:
Write komentar