Kamis, 21 September 2017

Tahun Baru Islam 1 Muharom 1439

Pada tangal 21 september 2017 yang bertepatan pada hari kamis, seluruh santri al-hidayah al-mumtazah mengadakan acara Tahun Baru Islam 1 Muharom 1439, acara ini dimeriyahkan oleh berbagai perlombaan yang sudah menjadi kebiasaan pesantren ataupun sunnah disetiap acara.
Acara ini dimulai pada hari kamis pukul jam 07:15 pagi. Dan acara ini dibuka oleh ust senior pesantren yaitu Ust. Zainudin dengan bacaan takbir 3 kali dan sebagai sambutan acara yaitu mu'allimah shinta sebagai ketua panitia, setelah sambutan-sambutan rentenan acara kamipun memeriahkanya dengan gema sholawat yang dibawakan oleh hadroh al-ataz yang diikuti oleh seluruh santri, dan para panitia acara mengadakan berbagai perlombaan yang diikuti oleh perwakilan kelas.
      perlombaan acara 1Muharom ini antara lain:

  1. Pidato 3 Bahasa
  2. Lomba Sholawat
  3. Cerdas Cermat
  4. Qiro'atul Al-qur'an
  5. Tahfidzul Al-qur'an
jalananya perlombaan ini membutuhkan 2hari, dikarnakan pada hari jum'at kami harus masuk sekolah seperti biasa. Perlombaan ini akan berjalan sampai hari sabtu dan pembagian hadiah dilakukan pada malam minggu disertai penutupan acara Muharom ini.



Rabu, 20 September 2017

Potret Pesantren: Antara Santri dan Harapan Kiai

 Ust. Ahmad Zainuddin Aziz *

"Sekali menjadi santri selamanya tetap santri.” Pesan inilah yang selalu disampaikan oleh KH. Muammal Syarif, M.A. dalam setiap momen perpulangan santri atau dalam istilah kerennya adalah KUKM (Kuliah Umum Kemasyarakatan). Satu pesan yang mengiringi mereka menikmati liburan di rumah. Pesan yang memiliki makna tersirat, begitu mendalam, dan penuh historis. Ada apa dengan santri?

Hakikatnya santri adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama Islam di pesantren. Biasanya menetap di tempat tersebut hingga pendidikan selesai. Selama di pesantren mereka akan banyak menimba ilmu pengetahuan agama maupun umum. Segala aktivitas di pesantren menjadi pijakan dalam berkarya dan bertahan hidup kelak setelah kembali ke masyarakat. Namun ada hal yang unik dari santri yakni kebiasaan makan bersama-sama satu nampan, melanggar berjamaah, lambat kiriman, jarbanan (skabies) dan hal lain semacamnya. Hal semacam inilah yang menjadi daya tarik untuk dilihat dan direnung ulang, bagaimana sisi unik kehidupan seorang santri dan kehidupan pesantren secara luas.

Pertama; Seorang santri pasti merasakan makan satu nampan (piring makan). Mereka bersama-sama makan dengan lauk seadanya. Walapun hanya lauk sate (baca: sayur tempe) tapi seperti makan di restoran. Ah, kejauhan membayanginya! Tahukah jikalau kebiasaan tersebut mengajarkan kepada kita agar kita selalu bersama-sama dalam suka atau pun duka, menikmati makanan bersama-sama juga mengajarkan saling berbagi dan memahami kebutuhan masing-masing, tidak boleh rakus dan tamak.

Kedua; Pelanggaran. Santri pasti pernah melanggar. Selama ada peraturan di situlah ada pelanggaran. Santri yang melanggar akan berurusan dengan bagian keamanan, begitulah alurnya. Namun pelanggaran yang dilakukan oleh santri merupakan gejala sosial di mana melanggar merupakan bentuk pencarian jati diri, katanya! Jadi semakin sering melakukan pelanggaran semakin lekas mereka menemukan jati diri? Tentu tidak! Menemukan jati diri seseorang tidak selamanya berawal dari pelanggaran, ada juga yang datang dari nasihat-nasihat para ustaz/ ustazah, pesan orang tua, uswah yang baik dan semacamnya. Namun tidak sedikit santri yang dikenai sanksi karena melanggar, lambat laun mereka merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Hukuman yang mereka terima benar-benar membuat mereka taubat dan insyaf. Pemberian hukuman pada mereka pada hakikatnya mengajarkan agar mereka sadar hukum dan sadar akan konsekuensi dari segala tindakan mereka.

Ketiga; Lambat kiriman, urusannya dengan isi dompet. Menipisnya uang jajan santri terkadang membuat mereka galau setengah mati. Pagi-pagi murung mukanya kusut seperti baju yang belum disetrika. Mata merah karena menangisi dan meratapi isi dompet. Gejala ini sering dialami ketika santri mengidap kanker (kantong kering). Namun, bagi sebagian santri gejala tersebut dijadikan ajang introspeksi diri, penambah power dan spirit belajar mereka. Sebab mereka sadar bahwasanya orang tua mereka mencari nafkah tidaklah mudah, penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Banyak orang tua mati-matian mencari rezeki hanya demi kebutuhan anaknya di pondok. Pagi-pagi orang tua sudah berangkat kerja, kadang mereka lupa sarapan, sungguh kasihan. Kurang apa mereka?

Keempat; Penyakit jarbanan, entah dari mana asal muasal nama jarbanan tapi yang jelas secara medis disebut scabies. Ya, semacam penyakit kulit. Penyakit itu katanya sebagai ucapan selamat datang bagi santri baru. Bagi santri lama sudah tidak asing lagi karena mereka sudah merasakan nikmatnya jarbanan, akhirnya kulit mereka sudah kebal dari penyakit tersebut. Justru yang jadi problem adalah santri baru. Mereka harus berjibaku dengan kuman atau bakteri yang timbul di kulitnya. Kadang perjuangan mereka harus berakhir di rumah. Padahal setelah kita telisik lebih jauh lagi, ada hikmah di balik musibah tersebut, yakni menguji tingkat kesabaran santri baru dalam mengawali hidup mereka di pondok. Jangan sampai serangan jarban meluluhlantakkan niat belajar di pondok. Tragisnya cuma gara-gara penyakit tersebut ada sebagian santri baru harus out (keluar) dari pondok, menyerah dari serangan jarbanan. Sekecil itu nyalimu santri baru?

Akumulasi keempat keunikan santri di atas tak ubahnya seperti gambaran kehidupan mereka kelak ketika kembali kepada masyarakat. Hidup bermasyarakat harus mampu menjadi pribadi yang saling berbagi, mengerti akan kebutuhan lingkungan sekitar, pemberi harapan indah, menjadi pioneer keselamatan, cerminan akhlak yang baik, pencetus lahirnya pribadi tangguh dan pekerja keras, serta mampu menjadi trio agen (agent of change, agent of knowladge, agent of cultural) yang akan dielu-elukan banyak orang. Berbanggalah kalian menjadi santri!

* Ust. Ahmad Zainuddin Aziz adalah tenaga didik di Pondok Pesantren Al-Hidayah Al-Mumtazah. Saat ini beliau tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana pada fakultas Ilmu Pendidikan di UNISMA Bekasi. Beliau juga merupakan alumni Pondok Pesantren An-Nuqayyah Guluk-guluk Sumenep.

Jumat, 01 September 2017

Memuliakan Guru


 “Islam sangat menganjurkan agar umatnya menghormati para ulama dan guru-guru mereka,” jelas Ketua Pelaksana Majlis Azzikra, Ustaz Abdul Syukur Yusuf, kepada Republika, Selasa (23/3).

Dia mengatakan, Syaikh az-Zarnuji dalam kitab Ta'lim Muta'allimmenjelaskan bagaimana cara menghormati guru, di antaranya tidak boleh berjalan di depan gurunya, tidak duduk di tempat yang diduduki gurunya, bila di hadapan gurunya tidak memulai pembicaraan kecuali atas izinnya.

“Ini hanya contoh, tidak mutlak seperti itu,” jelasnya. Banyak cara menunjukkan kecintaan atau penghormatan kepada guru. Yang kerap dilakukan saat ini adalah mencium tangan guru. Ada juga murid yang mengekspresikan kecintaan kepada guru dengan diam. Namun, di dalam hatinya penuh kecintaan kepada guru.

Yang paling penting, menurutnya, adalah rendah diri. Murid harus berendah diri atau tawadhu. Ilmu tidak akan dapat diperoleh secara sempurna kecuali dengan diiringi sifat tawadhu murid terhadap gurunya. 

Keridhaan guru terhadap murid akan membantu proses penyerapan ilmu. Tawadhu murid terhadap guru merupakan cermin ketinggian sifat mulia si murid. Sikap tunduk murid kepada guru merupakan kemuliaan dan kehormatan baginya.

Perilaku para sahabat, yang memperoleh pendidikan langsung dari Rasulullah SAW, patut dijadikan contoh. Ibnu Abbas, sahabat mulia yang amat dekat dengan Rasulullah mempersilakan Zaid Bin Tsabit untuk naik di atas kendaraannya, sedangkan ia sendiri yang menuntunnya. 

“Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ulama kami,” ucap Ibnu Abbas. Zaid bin Tsabit sendiri mencium tangan Ibnu Abbas. “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ahli bait Rasulullah,” balas Zaid.

Para generasi salaf sangat hormat terhadap ulama mereka. Terhadap Said bin Musayyib, fakih tabi’in, orang-orang tidak akan bertanya sesuatu kepadanya kecuali meminta izin terlebih dahulu, seperti layaknya seseorang yang sedang berhadapan dengan khalifah.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Aziziyah, Denanyar, Jombang, Jawa Timur, KH Aziz Masyhuri meminta agar para pencari ilmu menghormati guru mereka. Guru adalah perantara utama tersalurkannya ilmu. Tunaikan hak-hak mereka. Jaga etika bertanya. 

Adab bertanya kepada guru penting diperhatikan. Mengajukan pertanyaan kepada guru hendaknya tidak dimaksudkan untuk mengusili atau mengerjai sang guru. "Ini sangat tidak etis," katanya.

Termasuk adab dan penghormatan terhadap guru, ungkapnya, ialah menutupi aib. Laksanakan perintah guru, selama itu tidak bertentangan dengan rambu-rambu yang digariskan oleh Allah SWT. Ia menukilkan kisah dari Imam Syafi'i. 

Konon, pendiri Mazhab Syafi'i itu sangat hormat terhadap para gurunya. Satu di antaranya ialah Imam Malik. Dikisahkan,  pencetus Mazhab Syafi'i itu selalu berhati-hati membuka lembaran kitab jika berada di depan sang guru, Imam Malik. "Aku tidak ingin membuatnya terusik dengan gesekan kertas," kata Syafi'i.



Roda Kehidupan

Hidup di dunia ini hanya sementara dan tak ada yang abadi. Karena semua yang ada di dunia ini pasti akan kembali kepada Sang Kuasa, hidup di dunia ini harus penuh dengan kesabaran dan tawakkal.
Sebab, kehidupan itu tidak selamanya dipenuhi oleh kesenangan. Kita hidup  selalu bergilir, setiap detik hidup kita berubah, tidak selamanya kita hidup dalam kesenangan karena kita juga akan merasakan hidup dalam kesusahan, sebab roda kehidupan kita selalu berputar, tiada jalan lain untuk meraih kesuksesan tanpa disertai dengan doa, ikhtiar, dan tawakkal.
Seseorang yang ingin meraih kesuksesan pasti membutuhkan bantuan dari orang lain. Karna semua manusia di dunia ini tidak bisa hidup secara individual (sendiri-sendiri). Semuanya pasti membutuhkan bantuan dari orang lain. Meraih kesuksesan itu tidak semudah yang kita pikirkan. Kita harus melewati rintangan demi rintangan, tantangan demi tantangan dari semua orang, kita harus sabar ketika dibenci ataupun tidak disukai, tatkala disisihkan dan dihina, akan tetapi kita harus yakin suatu saat nanti mereka yang dulu menghina, mencaci dan membenci, akan mencari-cari kita, artinya ketika kita jadi santri ataupun pelajar kita hina karna kebodohan kita, karna kebodohan kita yang banyak bertanya karena bertanya kita akan tahu kita akan paham karna ketika kita telah sukses maka di situlah mereka dan di situlah mereka akan mencari kita dan kita akan dimuliakan jadi kehidupan kita akan selalu berputar. "Dan janganlah kalian bangga dengan harta yang kalian miliki karna suatu saat kalian juga akan merasakan kesulitan dan kesusahan kerena harta banyak tak menjamin kesenangan."

Merayakan Idul Qurban

Jum'at - Idul Qurban merupakan salah satu hari raya umat Islam. Idul Qurban yang biasanya dikenal dengan Idul Adha tahun ini jatuh pada hari Jum'at (01/09/2017) dalam kalender masehi. Umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Qurban ini dengan suka cita, perihal yang sama dirasakan juga oleh santri dan santriwati Pondok Pesantren Al-Hidayah Al-Mumtazah.

Idul Qurban tahun ini terasa istimewa. Hal ini disebabkan oleh pelaksanaan sholat id di masjid Darul Ifaqoh untuk yang pertama kalinya setelah selesai masa pembangunan. Tidak hanya itu, pelaksanaan sholat Jum'at pun dilaksanakan untuk pertama kali di masjid kebanggan santri dan santriwati Pondok Pesantren Al-Hidayah Al-Mumtazah tersebut.

Idul Qurban di Pondok Pesantren Al-Hidayah Al-Mumtazah juga dimeriahkan dengan beberapa perlombaan. Pelaksanaan lomba diprakarsai oleh Ismam, sebagai sebuah organisasi santri internal pesantren. Diantara perlombaan yang dilaksanakan adalah lomba takbir jama'ie, lomba azan dan lomba memasak. Perlombaan memasakan ikut dimeriahkan juga oleh peserta dari asatidz, sebagai bentuk partisipasi dalam kegiatan-kegiatan pendidikan terhadap seluruh santri.

Selain itu, Pondok Pesantren Al-Hidayah Al-Mumtazah juga menerima beberapa hewan qurban dari dermawan ma'had dan wali santri. Menurut koordinator pemotongan hewan qurban, Ust. Welis Santana, tahun ini merupakan tahun penerimaan hewan qurban terbanyak daripada tahun-tahun sebelumnya. "Terhitung ada 9 kambing, dan 1 sapi diterima oleh pondok," ujar beliau di sela-sela pemotongan hewan qurban.

Beliau juga mengatakan, daging hewan qurban akan didistribusikan kepada santri dan santriwati, juga kepada masyarakat sekitar, sebagai bentuk kepedulian pesantren kepada lingkungan masyarakat sekitar. "Semoga di tahun-tahun yang akan datang, hewan qurban yang diterima pondok pesantren bisa menunjukkan peningkatan yang segnifikan," harap beliau dengan senyum simpul.


Sabtu, 26 Agustus 2017

Iman sebagai Akar Pendidikan

Keturunan yang baik dan menjadi penyejuk hati tidak akan terwujud kecuali dengan pengorbanan dan usaha yang sunggguh-sungguh dari ayah dan ibu. Mereka berdua menduduki posisi Adam Dan Hawa ketika diturunkan kebumi ini untuk mendirikan (kepemimpinan).

Allah SWT Berfirman:
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ini."?(QS.Al-Baqoroh (2):30).

setelah itu Allah menurunkan ke bumi dua insan yaitu Adam dan Hawa. Mereka diturunkan bersama lalu menjalankan tugas yang merupakan perintah agung ini. Pendidikan adalah Sebuah Nutrisi, Pengembangan, dan perluasan cakrawala. Semua ini sangat terkait dengan masalah  iman, yang merupakan akar dan titik tolak untuk mandirikan amal yang baik,  betapa banyak kita mendapati dalam Al-Qur'an iman dan amal sholeh diletakan bersama. Begitu pula kita banyak mendapati janji kebaikan dari allah di dunia dan akhirat bagi mereka yang nemiliki dua sifat ini.

Iman adalah pondasi tempat didirikannya amal sholeh. Artinya, jika gambaran amal itu didirikan, walaupun tampak seperti amal yang baik, tetapi disertai iman yang lemah.

By: Sandi permana

Kamis, 24 Agustus 2017

Kembali Bangkit dalam Kegagalan


Lakukanlah suatu hal berdasarkan hati bukan materi yang akan kau terima kelak
 Keinginanmu untuk sukses harus lebih besar dibandingkan ketakutanmu akan kegagalan
 jika ingin menjadi pribadi yang sukses
Integritas dan komitmen adalah aset mental yang hanya dimiliki 
oleh orang yang jiwanya menyatu dengan keberhasilan
 Meraih sesuatu itu sangatlah sulit, tetapi menghancurkannya amatlah mudah
 Yang perlu kita pelajari dari orang sukses bukan kesuksesan apa yang mereka raih, tapi bagaimana mereka berjuang habis-habisan sampai sukses
 Kebahagiaan tertinggi di dunia saat kita sadar bahwa kita "bernilai" bagi orang lain 
Gagal itu pukulan menyakitkan sekaligus kenyataan pahit yang harus diterima dengan segumpal kesenduan. Namun jika kita belajar dari pahitnya gagal, maka manisnya sukses akan semakin dekat
  
Jika sikapmu buruk, kamu takkan pernah menemukan sesuatu yang berarti di dunia ini
 Kegalalan adalah sukses yang masih berjalan
 Jadilah pelangi dalam awan seseorang (Maya Angelou)
 Tidak ada hasil yang sia-sia. Oleh sebab itu, 
hargailah setiap usaha yang kamu perjuangkan 
Pilihan tetap ditangan kita entah waktu yang berjalan akan kita manfaatkan atau dibuang percuma
Kontributor: R Bunga Salsabila. 

Selasa, 22 Agustus 2017

Biarkan Hari Berlalu Dengan Segala Lakunya

Biarkan hari berlalu dengan segala lakunya
Lapangkan dada atas segala Takdir-Nya Janganlah gundah dengan segala derita
Karena cobaan dunia hanya sementara

Tangguhkan jiwa atas segala nestapa
Hiasi diri dengan maaf dan sikap setia
Semua aib akan dapat tertutup dengan kelapangan dada
Layaknya kedermawanan menutupi cela manusia

Tak ada kesedihan yang abadi, begitupun suka ria
Dan tak ada pula cobaan yang kekal, begitupun riang gembira
Di depan musuh, janganlah engkau bersikap lemah
Karena hinaan dari seteru adalah bencana

Dan jangan pernah berharap dari kikir durjana
Karena api takkan menyediakan air untuk si haus dahaga
Rizkimu takkan berkurang karena ditunda
Dan takkan bertambah karena lelah mencarinya

Bila engkau punya hati qona'ah bersahaja
Tak ada bedanya engkau dengan pemilik dunia
Bila kematian sudah datang waktunya
Tak ada lagi langit dan bumi yang bisa membela

Ingatlah, dunia Allah sangat luas tak terhingga
Tapi bila takdir tiba, angkasa pun sempit terasa
Maka biarkanlah hari berlalu setiap masanya
Karena kematian tak ada obat penawarnya


(Imam Syafi'i)