Selasa, 14 November 2017

Jeritan Aku *BU*

 
SUARA TANYA DAN JERITAN SEORANG BAYI YANG TAK BERDOSA

Saat ini Aku gembira sekali, Aku berada ditempat yang hangat dan nyaman walaupun gelap.
Tapi ah.. Itu tidak masalah, Aku tetap gembira sekali, Tuhan telah memilihkan tempat ini untukku.

Aku Bisa merasakan Ibu tersenyum, mendengarkan suara Ibu yang lembut.
Tapi Bu, kenapa beberapa hari ini Ibu menangis..?

Malam ini Aku juga mendengar Ibu menangis, bahkan ketika tangisanmu semakin menjadi, tiba tiba Ibu
memukulku, yang masih ada dalam perut Ibu. Aku Kaget sekali Bu..

Aku ingin sekali memelukmu dan bertanya kepadamu, kenapa Ibu bersedih..?
Siapa yang telah membuat Ibu menangis..?

Tapi Ibu terus memukulku.. sakiiiit Bu..
Ibu.. Aku ingin bertanya, kenapa hari ini Ibu mencaci-maki Aku..?

Aku bahkan tidak tahu apa salahku..? Yang ada Ibu hanya berteriak sambil menyebutkan nama Seseorang yang Ibu katakan sebagai Ayahku, Seseorang yang kemarin memukul Ibu.

Ibu.. Aku ingin membelai Wajahmu dan mengusap air matamu, Aku ingin mengatakan Aku sayang Ibu agar Ibu tenang, tapi tanganku masih terlalu kecil untuk bisa merangkul bahkan membelai wajahmu Bu..

Tapi Tenanglah Bu, aku benar-benar akan membahagiakan Ibu saat aku tumbuh besar nanti. Aku akan menjadi jagoan kecil Ibu dan melindungi Ibu, agar tidak ada lagi yang menyakiti Ibuku.

SAAT ABORSI

“Ibu.. Kenapa seharian ini Ibu tetap menangis..?
Apa Aku berbuat salah..?
Ibu, hukumlah Aku jika Aku salah, tapi tolong usir benda yang menarikku ini..!

Ibu dia jahat padaku, dia menyakitiku, Ibu.. Tolong Aku.. sakiiiiit..
Ibu.. Kenapa Ibu tidak mendengar teriakanku..??

Buuu..!!!

Benda itu menarik kepalaku, rasanya leherku ini mau putus,
dia bahkan menyakiti tanganku yang kecil ini,
dia terus menarik dan menyiksaku..

Sakiiiiit.. :'(

Oh Ibu… tolong hentikan semua ini, aku tidak kuat kesakitan seperti ini..
Ibu.. Aku...… sekarat

ABORSI SELESAI

Ibuku sayang.. Kini aku telah bersama ALLAH di Surga, Aku bertanya kepadaNya, apakah Aku dibunuh..?

Dia menjawab dengan lembut "Kamu di-Aborsi naak.."
Ibu, aku masih tidak mengerti apa itu Aborsi..?

Yang Aku tahu sesuatu itu telah menyakitiku dan Aku sedih Bu..
Teman-Temanku di Surga bilang, kalau Aku tidak di-inginkan.

Ah.. Aku tidak percaya…
Aku mempunyai Ibu yang sangat baik dan sayang padaku.

Mereka juga berkata, karena Aku.. Ibu merasa sangat malu…!!

Itu Tidak benar kan Bu..? Aku kan jagoan kecil Ibu yang akan melindungi Ibu, kenapa Ibu harus malu..?!!
Aku janji tidak akan nakal dan membuat Ibu malu.

Tetapi Mereka tetap bilang padaku, kalau Ibu sendiri yang membunuhku..!
Tidak ! Ibuku tidak akan sekejam itu, Ibuku sangat lembut dan mengasihiku..!

Maafkan Aku Ibu…
Aku telah berusaha sekuat tenaga untuk bertahan.
Karena Aku ingin membahagiakan Ibu, tapi sekarang Tuhan telah membawaku kesini, karena kejadian itu…

Benda Itu telah menghisap lengan dan kakiku hingga putus… dan akhirnya mencengkeram seluruh tubuh mungilku.

Ibu.. Aku hanya ingin Ibu tahu, bahwa Aku sangat ingin tinggal bersama Ibu, Aku tak ingin pergi. Aku sayang Ibu, walaupun Aku belum sempat bernafas dan melihat wajahmu Ibu..

Ibu… Aku sangat ingin mengatakan, biarlah Aku sendiri yang merasakan sakitnya diperlakukan seperti itu, asal jangan Ibu.

Ibu… Maafkan Aku…
karena gagal menjadi jagoan kecil yang akan melindungi Ibu…

Selamat tinggal Ibu..…

Minggu, 12 November 2017

Cinta Kau, Yah...

yah...anakmu kurang tidak
Namun, ia memiliki banyak mimpi.

Aku tak bisa membaca,
Dan tak pula menulis
Hidup di kota besar ini,
Hiruk pikuk kehidupan kujalani
Aku hanya orang kecil diantara mereka
Yang tertindas yah...

Sungguh memang kejam dunia ini
Jika engkau mengetahuinya

Yah... ku lelah hidup didunia ini
Yang hanya menumpuk dosa
Namun, aku takut api neraka

Yah... kau jembatan menuju sukses ku
Kau hidup jauh sebelum ku yah...
Kau lebih dalu merasakan pahit nya kopi,
Asinnya garam, manisnya gula,
Dan kecut nya daun kehidupan
Namun, kau lebih sedikit dosa yah...

Kau bangun pagi
pulang pagi 
Bahkan, tak kujumpai hari bagi kau
Istirahat dari penat mu, Yah...

kini ku besar, yah...
Nama ku tersebar
Namun aku belum menjadi orang yang benar

Aku hidup di negeri orang yah..
Negeri tempatku jauh dari kau
Serta sanak saudara mu
Namun lagi-lagi kau tidak
 menggambarkan film kegagalanmu
Yang kau tampakan hanyalah kesuksesan
Kau lampau kehidupan ku yah...

By: Salsabilla sarda        

Sabtu, 11 November 2017

Menjadikan Sampah Sebagai Berkah

Ada kisah menarik dari seseorang bernama gamal al-binasaid, dokter magang dirumah sakit saiful anwar malang ini mendapatkan penghargaan HRH the prince of wales yaung Sustainability

Entrepreneurship First Winner 2014, pada jumat 31 januari 2014.
karyana berupa klinik asuransi premi sampah, membawa gamal sampai ke inggris, program yang dijalankannya ini merupakan salah satu program milik indonesia medika. anak dari pasangan Eliza Abdat dan Saleh Arofan Albinsaid ini merupakan CEI dan pendiri indonesia medika. Lalu muncul pertanyaan dalam benak kita, apa itu klinik asuransi sampah?

Klinik asuransi premi sampah adalah sistem asuransi kesehatan mikro berbasis kerakyatan dengan semangat gotong-royong melalui pembayaran premi dengan sampah sebagai sumber pendanaan utama pelayanan pertama masyarakat. Warga cukup menyerahkan sampah nya kepada klinik Asuransi sampah senilai Rp 10.000 rupiah setiap bulan dan bisa menikmati berbagai fasilitas kesehatan. Sampah yang dikumpulkan warga diolah menjadi uang sebagai Dana Sehat dengan metode Takakura dan  daur ulang.

Cerita diatas setidaknya menginspirasi kita semua bahwasanya sesuatu yang menurut kita tidak berharga justru mendatangkan keberkahan solusi bagi lingkungan dan membangun jiwa keperdulian terhadap sesama. Maka melalui sampah kita bisa berbagi, melalui sampah kita bis hidup sehat, melalui sampah kita bisa mengentas kan kesenjangan sosial. Ujungnya sampah tidak lagi menjadi sesuatu yang mengganggu pandangan sehingga kemudian sampah bisa saja menjadi sesuatu yang dicari-cari dan di rindu kan oleh banyak orang.

Bisakah kita membuat asuransi sampah khusus santri?
Tentu saja bisa, kenapa tidak? kita bisa mengadopsi sistem asuransi sampah diatas, yakni mendirikan bank sampah sebagai media transaksi,. Nantinya santri bisa mengumpulkan sampah miliknya sendiri lalu kemudian di nominal kan. Hasil tersebut akan menjadi tabungan pribadi untuk santri tersebut, Hal ini tentu saja sangat potensial mengingat volume sampah setiap harinya terus bertambah seiring bertambahnya santri.

Lihat saja tong sampah santri putri sehari selalu penuh, isinya macam-macam. Dari sampah yang bertekstur lembut hingga yang keras, dari basah hingga yang kering, semua bercampur aduk. pemandangan ini mengindikasikan bahwa santri putri cukup konsumtif. Apalagi jika sampah-sampah dari santri putri putra tersebut ditambah dengan sampah dari santri putra. Bisa di pastikan bahwa tempat pembuangan akhir (TPA) kita akan selalu penuh dan berantakan.

Banyak hal yang kita dapat lakukan dari asuransi sampah santri. salah satunya adalah membentuk kesadaran mereka akan pentingnya kebersihan, mengangkat jiwa perduli terhadap lingkungan dan pandai mengelola sesuatu yang yang sederhana menjadi sesuatu yang berharga, akan tetapi, bagaimana santri bisa merawat lingkungan sekitar.

 lalu apa resiko terbesar jika kita salah mengelola sampah?
sedikit plastik bagi kesehatan dan lingkungan, salah satunya adalah sifat sampah itu sendiri yakni sifat plastik yang susah diuraikan oleh tanah meskipun sudah tertimbun bertahun-tahun. Ketahuilah bahwa plastik baru bisa diuraikan oleh tanah setidaknya setelah tertimbun selama 200 hingga 400 tahun. bahkan ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa sampah plastik bisa terurai dalam waktu 1000 tahun lamanya.

proses lamanya terurai inilah yang mengakibatkan belang plastik yang kemudian mengakibatkan dampak sampah plastik buruk bagi lingkungan, seperti munculnya zat kimia yang dapat mencermati sehingga berkurangnya tingkat manfaat dan kesuburan nya. selain itu dengan plastik juga dapat membunuh sang pengurai tanah. sehingga wajar saja tingkat kesuburan nya yang dimiliki tanah berkurang.


                                                                                                            Reporter: Ust. Zainuddin

Minggu, 05 November 2017

Simulasi Laboratorium Komputer dan Internet

Pada Minggu, 5 November 2017. kami mengadakan beberapa simulasi diruang laboratorium komputer dan Internet di Pondok Pesantren Al-Hidayah Al-Mumtazah guna menentukan dan mengevaluasi apakah tempat belajar komputer terpusat kami dapat direalisasikan.
beberapa hal yang kami pertimbangkan adalah dari segi user interface mulai dari ruangan, suhu, posisi tempat duduk dan kegiatan belajar mengajarnya.
meskipun hanya dalam bentuk simulasi. Alhamdulillah untuk beberapa waktu kedepan Lab Komputer ini akan kami launching dan kami buka secara terbuka untuk para santri kami yang ingin mendalami ilmu komputer secara praktek (pengembangan dari materi TIKyang diajarkan di kelas sekolah) dalam bentuk kursus. 
Penanggung Jawab Laboratorium Komputer dan Internet di Pondok Pesantren Al-Hidayah Al-Mumtazah adalah Usth. Halimatussa'diyah. Insya'allah beliau siap membimbing dan mengajarkan santri tentang tata cara dan penggunaan komputer kepada santri kami nanti. 
untuk itu, kami meminta sambungan doa yang tulus kepada para wali santri semoga apa yang akan kami jalankan ini dapat bermanfaat dan berguna untuk kepentingan kita bersama.

Senin, 30 Oktober 2017

Janji

Oleh : Liza Aprilliani*

Pergantian tahun sudah berlalu sejak 25 menit yang lalu. Tetapi, kembang api dan petasan belum menunjukan akan mengakhiri pertunjukannya. 2 Tahun yang lalu, Raka pernah berjanji untuk kembali dan duduk bersamaku di lapangan ini. Ingatanku pun terulang kembali ke masa itu.

“Za, Raka janji kok, bakalan balik lagi dan nemuin kamu di setiap hari-hari kamu. Raka bakal balik tepat di  malam pergantian tahun,” ucap Raka lembut.

“Tapi Raka harus janji sama Feza, bakal tetep  jadi sahabat Feza,” ucapku sembari mengacungkan jari kelingking.

Dia tertegun sejenak, kemudian tersenyum dan menautkan kelingkingnya di kelingkingku. Sangat berat sebenarnya melepaskan Raka. Karena, aku dan Raka adalah sahabat kecil. Rumah kami berdekatan, dan orang tua kami pun teman dekat. Aku selalu mengikuti Raka. Tetapi, 2 Tahun lalu Raka mendapatkan beasiswanya ke Turki, dan itu menyebabkan jarak antara aku dan Raka. Aku merasakan aliran hangat yang mengalir dari kelopak mataku. Aku menangis lagi.

“Sampai pergantian tahun ke berapa aku harus menunggu Raka?”

Sentuhan hangat mendarat  lembut di pundakku, aku hafal sentuhan itu. Mama, beliaulah satu-satunya orang yang mengetahui penantianku. Mama selalu mengatakan kepadaku, bahwa Raka di sana baik-baik saja dan akan segera kembali ke Indonesia untuk menepati janjinya. Yaitu menemuikku.

Aku pernah membantah Mama tentang ungkapan yang ia jelaskan tentang kembalinya Raka. Tetapi, Mama malah betanya lagi kepadaku, terhadap perasaanku. Apakah benar perasaanku kepada Raka sebatas kerinduan seorang sahabat, atau bahkan lebih dari itu? Mamah mengajakku pulang. Aku pun menurutinya, sebelum beranjak pergi aku sempat menoleh kembali ke Lapangan. Melihat tempat yang biasa aku duduki bersama Raka. Namun, Tetap Kosong!!!.


Bersambung...


*Liza Aprilliani adalah salah satu santriwati di Pondok Pesantren Al-Hidayah Al-Mumtazah. Liza merupakan santriwati yang berasal dari Bekasi Utara. Ia aktif di kelompok Qalami yang menjadi wadah pembelajaran dan pengembangan kemampuan literasi di pesantren di mana ia belajar.

Pesantren, Literasi dan Kenang-kenangan

         
                    Oleh: Imam Assodiq

Bagi saya, menulis merupakan sebuah persetubuhan manusia dengan pengalaman empiris, dan semua orang sedianya selalu menyayangkan bila sebuah persetubuhan tidak sampai pada titik jenuh yang kita sebut klimaks. Menulis bukan hanya menyampaikan apa yang ada di pikiran saja, lebih dari itu ia merupakan buah dari kesungguhan menyusun kata dan kalimat, menggali apa yang tertanam dalam pita otak serta memilah-milah berbagai pengalaman dan perasaan untuk dijadikan satu kesatuan yang utuh.

Ada banyak term yang bisa kita pakai untuk kegiatan ini (menulis), dan salah satu yang menjadi favorit saya adalah term literasi. Perkenalan saya dengan dunia literasi, bisa terbilang cukup lama. Mulanya dimulai dari kebahagiaan saya jikala saya mampu menyelesaikan suatu bacaan, baik bacaan yang pendek maupun bacaan yang panjang.

Saya ingat, ketika Sekolah Menengah Pertama, saya sudah membaca karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Setelah selesai membaca novel tebal untuk pertama kalinya, saya rasa saat itu saya sudah jatuh ke dalam perasaan yang indah. Ya saya jatuh cinta dengan cerita-cerita. Setelah jatuh cinta pada cerita, saya kemudian membaca karya-karya Habiburrahman El-Shirazy, dari Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-ayat Cinta dan Dalam Mihrab Cinta yang akhirnya membuat saya sedih sesedih-sedihnya. Saya tidak tahu ketika itu, kalau tulisan mampu menyentuh sisi avektif seseorang.

Yang perlu disayangkan ketika itu adalah saya tidak pernah berpikir bagaimana caranya menulis?!

Di awal-awal saya membaca, saya memang hanya bertemu dengan karya-karya dua novelis itu saja. Karena memang tidak ada yang menyarankan saya untuk kemudian langsung membaca Pramoedya Ananta Toer, Budi Darma, Umar Kayam, Putu Wijaya, atau penulis luar seperti Ernest Himingway, Garcia Marquez, Kafka atau bahkan Dan Brown. Saya mengenal mereka bertahun-tahun setelahnya, atau ketika saya kemudian memutuskan untuk mondok di TMI Al-Amien Prenduan. Di sinilah saya kemudian membayar tuntas pencarian saya selama ini.

Tahun pertama mondok di TMI, sebenarnya hanya saya habiskan buat main-main saja. Tahun pertama saya sebenarnya tidak begitu membahagiakan. Saya berteman dengan Umar Faruq, santri yang masuk pondok karena dijanjikan oleh bapaknya akan dibelikan motor Ninja, atau Harun Ar-Rasyid, anak medan yang senang membicarakan hal-hal yang luks seperti sepatu Nike original yang ia beli dengan harga yang sangat fantastis, atau tentang koleksi baju, kalung, cincin dan Gadget yang saya rasa tidak biasa, juga sama halnya dengan Romy Fredyanto, anak Sunda yang suka merokok dan senang membicarakan pengalaman birahinya dengan pacar-pacarnya terdahulu. Bersama mereka saya menghabiskan tahun pertama saya di TMI, tidak ada yang berkembang dalam dunia akademik dan soft skill, sebelum akhirnya mereka satu per satu terbuang dan memilih pergi sehingga tersisa saya sendirian.

Di sinilah saya kemudian bertemu dengan Saifir Rahman, sosok pemikir keras, atau Rahmad Syah Dewa sosok tangguh dalam mendalami sesuatu dan Nawaf Muhyi sosok bersahaja yang senang sekali mengulang-ulang nasihat ibunya dengan Bahasa Sunda. Mereka mengenalkan saya pada Sanggar Sastra Al-Amien (SSA), mereka mengenalkan pada saya dunia penerbitan untuk pemula dan bersama mereka pula saya menikmati hari-hari saya di pesantren. Di sinilah pesantren menjadi candu yang susah saya lepaskan begitu saja—dan yang tidak akan saya lepas, selamanya— dan akhirnya membuat saya mengagumi dunia pesantren sampai saat ini.

Bersama mereka pula kemudian saya mengenal Nurcholis Madjid, sosok guru Bahasa Indonesia yang rela meluangkan waktu untuk mengoreksi cerpen-cerpen dan karya saya yang lain,  Hamzah Arsa yang mengajarkan saya banyak hal tentang kerja keras, belajar otodidak juga mengenalkan saya dengan dunia penelitian. Saya kemudian terlibat intens dengan dunia kepenulisan dan penerbitan. Mereka menyodorkan saya Dostoyevski, Garcia Marquez, Paulo Coelho dan lainnya. Mereka juga melibatkan saya dalam redaksi Senja Media Coretan Pena, Lima Khazanah Literasi, dan yang terakhir mau tidak mau saya akhirnya belajar editing dan layouting untuk penerbitan WARKAT tahunan TMI Al-Amien Prenduan.


Saya mengenang perjalan sebagai salah satu cara berterima kasih. Kenang-kenangan saya kemudian berkelindan, satu per satu menjadi cerita utuh. Di sinilah saya menikmati persetubuhan unik manusia dan pengalaman empiris. Saya ingat apa yang Pramodya Ananta Toer ucapkan, Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.(i)

*Imam Assodiq adalah alumni Al-Amien Prenduan. Saat ini sibuk mengajar di Pondok Pesantren Al-Hidayah Al-Mumtazah, sembari aktif di Qalami Khazanah Literasi Santri, salah satu media dan wadah untuk melatih dan mengembangkan budaya baca tulis.

Minggu, 29 Oktober 2017

Laporan Keluar Pondok Santri



Menjelang transansisi keamanan santri, beberapa perbaikan data utama pesantren yang menyangkut urusan administrasi santri tengah kami soroti guna memberi layanan yang berkualitas kepada para wali santri agar dapat mengetahui tentang santrinya yang berada di Pondok Pesantren Al-Hidayah Al-Mumtazah. 
Awalnya, upaya ini kami lakukan dengan memasang beberapa Unit CCTV disetiap spot tertentu untuk pengecekan realtime. Seiring bertambahnya waktu, mengingat semua bagian bagian penting di pesantren merangkap pada bagian-bagian tertentu di akademik sehingga dokumentasi ini diperlukan untuk mengarsipkan aktifitas-aktifitas tertentu untuk mengurangi beban Divisi Keamanan dalam hal memperhatikan santri yang keluar tanpa izin (Kabur). 
Maka, menjelang awal bulan November ini kami memperketat peraturan santri yang berkaitan dengan keluar pondok, diantaranya:
Setiap santri yang hendak keluar pesantren harus memperhatikan waktu-waktu boleh izin dan meminta izin ke Bagian Keamanan dengan membawa buku catatan santri ("Mufakkiroh")  untuk keterangan perizinan. 
Jika sudah diberikan izin untuk keluar sampai waktu tertentu, maka Santri harus melakukan check out dan melakukan pendataan di SAS  dan membayar biaya administrasi di SPC di Kantor Pusat Sistim Administrasi Santri.
Jika kantor SAS sedang offtime dan kepentingan keluar pondok adalah biasa, maka santri harus menunggu staff kami atau memanggil staff kami di kediaman masing-masing. namun jika urgent seperti mengantar orang sakit atau keperluan belanja maka santri bisa menggunakan Aplikasi Mandiri untuk mendata di komputer yang telah kami sediakan.
Setelah santri kembali, maka setiap santri yang telah izin dan check out wajib check in kembali di SAS agar kami (Pesantren dan Wali Santri) mendapatkan data laporan kembali santri apakah santri tsb kembali tepat waktu atau terlambat. 
Ketika santri keluar pesantren. rekaman dari cctv akan di review dihari berikutnya oleh Tim Khusus di pesantren, kemudian waktu perizinan akan dicocokkan dengan waktu keluar. Jika kedua data tersebut cocok maka tidak ada masalah, namun jika tidak ditemukan data perizinan maka secara otomatis santri akan dikalim Kabur dan akan terindeks ke Data Pokok Santri di Aplikasi SAS ATAZ kami.

Rabu, 25 Oktober 2017

Tentang Kamu

Tentang kamu 
Bagai sang pelangi. 
Mengindahkan hidup, yang selalu dihujani. 
Bagai cahaya mentari. 
Menerangkan hati, yang selalu digelapi. 

 Namun, mengapa sang pelangi tak abadi? 
Datang, lalu “kan pergi” 
Mengapa cahaya itu pun berganti? 
Menjadikan hati ini gelap gulita lagi. 

 Aku bagai selembar kertas lusuh 
Yang berarti jika ada cahaya mentari 
Menyinari dengan sinarnya yang sepuh 
Untuk mengambarkan pelangi. 

 Sayang... 
Ia tidak menyinariku dengan cahayanya. 
Tidak juga mengindahkanku dengan pelanginya 
Mengapa???

Karna aku,
Si kertas llusuh
Yang tersembunyi dibalik jutaan kertas baru
Dan tak takn terlihat olehmu

Tapi, apa kau tau???
Bahkan mengagumimu disini saja, sudah manis rasanya.
Tak terbayng, jika kau menemaniku juga.
Seakan membiarkanku bermain diatas pelangi...
Membahagiakan perasaanmu yang telah rapuh



 By: sinta lestari wahyuni