Rabu, 05 April 2017

Hukuman Bagi Penista Agama


PENGHINAAN terhadap agam Islam terus ada dalam sejarah. Mulai dari pelecehan terhadap Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, dan juga terhadap Al-Qur’an. Di Indonesia pun banyak terjadi penghinaan terhadap Islam. Sebelum kemerdekaan, Islam di Indonesia sudah dilecehkan, bahkan banyak ulama-ulama besar yang dibunuh. Tentu saja Muslim Indonesia tidak bisa berdiam saja jika agama Islam atau Al-Qur`an dilecehkan terus menerus.

Hukuman Bagi Penghina Islam

       Istihza` adalah tindakan yang sangat berlawanan dengan prinsip keimanan. Seorang yang beriman tidak mungkin muncul dalam hatinya sikap yang merendahkan agama-agama yang ada. Para Ulama` sepakat bahwa pelaku Istihza` Fii ad-Dien (menghina agama) adalah kafir, keluar dari agama Islam dan hukumannya adalah dibunuh. 

حَدِيثُ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لِكَعْبِ بْنِ الْأَشْرَفِ فَإِنَّهُ قَدْ آذَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُحِبُّ أَنْ أَقْتُلَهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ ائْذَنْ لِي فَلْأَقُلْ قَالَ قُلْ فَأَتَاهُ فَقَالَ لَهُ وَذَكَرَ مَا بَيْنَهُمَا وَقَالَ إِنَّ هَذَا الرَّجُلَ قَدْ أَرَادَ صَدَقَةً وَقَدْ عَنَّانَا فَلَمَّا سَمِعَهُ قَالَ وَأَيْضًا وَاللَّهِ لَتَمَلُّنَّهُ قَالَ إِنَّا قَدِ اتَّبَعْنَاهُ الْآنَ وَنَكْرَهُ أَنْ نَدَعَهُ حَتَّى نَنْظُرَ إِلَى أَيِّ شَيْءٍ يَصِيرُ أَمْرُهُ قَالَ وَقَدْ أَرَدْتُ أَنْ تُسْلِفَنِي سَلَفًا قَالَ فَمَا تَرْهَنُنِي قَالَ مَا تُرِيدُ قَالَ تَرْهَنُنِي نِسَاءَكُمْ قَالَ أَنْتَ أَجْمَلُ الْعَرَبِ أَنَرْهَنُكَ نِسَاءَنَا قَالَ لَهُ تَرْهَنُونِي أَوْلَادَكُمْ قَالَ يُسَبُّ ابْنُ أَحَدِنَا فَيُقَالُ رُهِنَ فِي وَسْقَيْنِ مِنْ تَمْرٍ وَلَكِنْ نَرْهَنُكَ اللَّأْمَةَ يَعْنِي السِّلَاحَ قَالَ فَنَعَمْ وَوَاعَدَهُ أَنْ يَأْتِيَهُ بِالْحَارِثِ وَأَبِي عَبْسِ بْنِ جَبْرٍ وَعَبَّادِ بْنِ بِشْرٍ قَالَ فَجَاءُوا فَدَعَوْهُ لَيْلًا فَنَزَلَ إِلَيْهِمْ قَالَ سُفْيَانُ قَالَ غَيْرُ عَمْرٍو قَالَتْ لَهُ امْرَأَتُهُ إِنِّي لَأَسْمَعُ صَوْتًا كَأَنَّهُ صَوْتُ دَمٍ قَالَ إِنَّمَا هَذَا مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ وَرَضِيعُهُ وَأَبُو نَائِلَةَ إِنَّ الْكَرِيمَ لَوْ دُعِيَ إِلَى طَعْنَةٍ لَيْلًا لَأَجَابَ قَالَ مُحَمَّدٌ إِنِّي إِذَا جَاءَ فَسَوْفَ أَمُدُّ يَدِي إِلَى رَأْسِهِ فَإِذَا اسْتَمْكَنْتُ مِنْهُ فَدُونَكُمْ قَالَ فَلَمَّا نَزَلَ نَزَلَ وَهُوَ مُتَوَشِّحٌ فَقَالُوا نَجِدُ مِنْكَ رِيحَ الطِّيبِ قَالَ نَعَمْ تَحْتِي فُلَانَةُ هِيَ أَعْطَرُ نِسَاءِ الْعَرَبِ قَالَ فَتَأْذَنُ لِي أَنْ أَشُمَّ مِنْهُ قَالَ نَعَمْ فَشُمَّ فَتَنَاوَلَ فَشَمَّ ثُمَّ قَالَ أَتَأْذَنُ لِي أَنْ أَعُودَ قَالَ فَاسْتَمْكَنَ مِنْ رَأْسِهِ ثُمَّ قَالَ دُونَكُمْ قَالَ فَقَتَلُوهُ 

      Artinya: Dari Jaabir bin ‘Abdillah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Siapakah yang akan (mencari) Ka’ab bin Al-Asyraf. Sesungguhnya ia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya”. Muhammad bin Maslamah pun segera bangkit berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau suka jika aku membunuhnya?” "Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Benar”. Maka Muhammad bin Maslamah berkata:“Ijinkanlah aku membuat satu strategi (tipu muslihat)”. Beliau menjawab: “Lakukanlah!”. Kemudian Muhammad bin Maslamah mendatangi Ka’ab bin Al-Asyraf dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya laki-laki ini (maksudnya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam) meminta kepada kita shadaqah. Sungguh, ia telah menyulitkan kita. Dan aku (sekarang) mendatangimu untuk meminjam kepadamu”. Maka Ka’ab menjawab: “Aku pun juga demikian! Demi Allah, sungguh engkau akan merasa jemu kepadanya”. Ibnu Maslamah berkata: “Sesungguhnya kamu telah mengikutinya dan kami tidak akan meninggalkannya hingga kami melihat bagaimana keadaan yang ia alami kelak. Dan sesungguhnya kami berkeinginan agar engkau sudi meminjami kami satu atau dua wasaq makanan”. Ka’ab berkata: “Ya, tapi hendaknya engkau menggadaikan sesuatu kepadaku”. Ibnu Maslamah dan kawan-kawannya bertanya: “Jaminan apa yang engkau inginkan?”. Ka’ab menjawab: “Hendaknya engkau menggadaikan wanita-wanita kalian”. Mereka berkata: “Bagaimana kami bisa menggadaikan wanita-wanita kami kepadamu sementara engkau adalah laki-laki ‘Arab yang paling tampan”. Ka’ab berkata: (Kalau begitu), gadaikanlah anak-anak kalian”. Mereka berkata : “Bagaimana kami bisa menggadaikan anak-anak kami, lantas akan dicaci salah seorang di antara mereka dengan mengatakan: ‘ia digadaikan dengan satu wasaq atau dua wasaq makanan? Yang demikian itu akan membuat kami cemar. Akan tetapi kami akan menggadaikan senjata kami”. Maka Ka’ab membuat perjanjian dengan Ibnu Maslamah agar ia (Ibnu Maslamah) mendatanginya (pada hari yang ditentukan). Maka Ibnu Maslamah pun mendatanginya pada suatu malam bersama Abu Naailah – ia adalah saudara sepersusuan Ka’ab. Mereka berdua pun memanggil Ka’ab untuk datang ke tempat senjata yang digadaikan. Ka’ab pun memenuhi panggilan mereka. Istri Ka’ab bertanya kepada Ka’ab: “Mau pergi ke mana malam-malam begini?”. Ka’ab menjawab: “Ia hanyalah Muhammad bin Maslamah dan saudaraku Abu Naailah”. Istrinya berkata: “Sungguh aku mendengar suara bagaikan tetesan darah”. Ka’ab berkata: “Dia itu saudaraku Muhammad bin Maslamah dan saudara sepersusuanku Abu Naailah. Sesungguhnya seorang dermawan jika ia dipanggil di malam hari meskipun untuk ditikam, ia akan tetap memenuhinya”. Muhammad bin Maslamah masuk ke tempat yang telah ditentukan bersama dua orang laki-laki. Ia (Ibnu Maslamah) berkata kepada mereka berdua: “Jika Ka’ab datang, maka aku akan mengucapkan sya’ir kepadanya, dan menciumnya. Jika kalian melihat aku sudah menyentuh kepalanya, maka pukullah ia”. Muhammad bin Maslamah juga berkata : “Kemudin aku juga akan menyilakan kalian menciumnya pula”. Ka’ab pun datang kepada mereka dengan pakaian yang indah dan bau yang harum semerbak. Muhammad bin Maslamah berkata : “Aku belum pernah mencium bau yang lebih harum dibandingkan hari ini”. Ia menjawab : “Aku memang mempunyai istri yang paham dengan minyak wangi yang paling unggul, dan ia adalah orang Arab yang paling baik”. Muhammad bin Maslamah berkata : “Apakah engkau mengijinkan aku untuk mencium kepalamu?”. Ka’ab menjawab: “Ya, silakan." Maka ia pun mencium kepala Ka’ab, yang kemudian diikuti dua orang temannya yang ikut mencium kepalanya pula. Muhammad bin Maslamah kembali berkata: “Apakah engkau mengijinkan aku untuk mencium kepalamu lagi?”. Ka’ab menjawab: “Ya”. Ketika ia memegang kepala Ka’ab, ia pun berkata kepada dua orang temannya: “Bunuhlah ia!”. Maka mereka pun membunuhnya. Setelah itu, mereka mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan mengkhabarkan perihal Ka’b bin Al-Asyraf” (Muttafaq ‘alaih/ HR. Al-Bukhari no. 4037. Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 1801].

Sumber: Majalah Lembaga 'Amil Zakat Baitul Maal Abdurrahman Bin 'Auf

Tidak ada komentar:
Write komentar