Rabu, 23 Mei 2018

Teko dan Gelas


Teko dan gelas, mungkin dua benda ini tak asing lagi untuk kita, teko tempat menyimpan air dan
gelas untuk takaran minum, namun dari dua benda tersebut terdapat keistimewaan yang tak terduga. Dua benda ini memang tidak ada harganya dibandingkan dengan tupperware, tapi kalau kita pikirkan banyak hal yang kita tidak ketahui oleh dua benda tersebut.
            Ada suatu kisah seorang santri yang bernama Husni Thamrin. Terciduk keluar pondok pesantren tanpa izin kepada bagian keamanan alias “kabur” seorang ustadz yang menemukannya langsung mengajaknya ke Mahkamah Amni (MA) untuk di introgasi. Mahkamah amni sangat ditakuti oleh kalangan santri karena terkenal dengan hukumannya yaitu “botak” yang membuat mata orang lain tertuju kepadanya. Setelah mereka masuk ke dalam mahkamah dan tentu banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh ustadz tersebut. “Husni, kenapa kau hendak kabur?” dengan suara khasnya pak ustadz berbicara, jika orang mendengarnya langsung menjawab dengan jujur. “Saya sudak tidak kuat ustadz. Saya sering di ejek sama teman-teman.” Jawab Husni dengan polosnya, memang Husni ini sering mendapat ejekan dari teman-temannya atau bahasa kerennya Bully yang menyebabkan Husni tidak betah di pesantren dan memutuskan untuk kabur.
            Pak ustadz pun tersenyum mendengar penjelasannya dan mengambil teko dan 2 buah gelas yang membuat Husni kebingungan. “Husni, perhatiakan baik-baik.” Tanpa perintah dua kali Husni memperhatikan teko dan gelas itu. Pak ustadz pun menuangkan air yang ada di teko kedalam gelas sampai terisi setengah dan gelas satunya dibiarkan kosong.
            Tentu Husni pun sangat bingung, apa maksud semua itu? “kau lihat gelas ini, gelas ini ibaratkan manusia dan airnya adalah masalah yang dimiliki oleh manusia. Manusia yang mempunyai batasan yang amat terbatas. Ya, memang manusia masih bisa menyimpan masalah itu. Seperti kau yang menyimpan masalahnya sendiri. Ketiak kamu sudah tidak kuat menampung masalah itu, maka masalah itu akan meluap kemana-mana.” Pak Ustadz berkata sambil menuangkan air ke dalam gelas yang sudah terisi setengah sampai airnya luber dan jatuh ke atas meja dan turun ke atas lantai. Air yang tumpah ini, yang jatuh ke atas meja kan merusak kayunya yang akan melapuk dan air yang jatuh ke lantai yang membuat lantai tersebut licin tinggal menunggu orang yang lewat saja maka insya Allah orang itu akan terpeleset. Sama dengan kau sekarang ini, kabur yang kamu kira akan menyelesaikan masalah malah menambah masalah.” Husni bisu tak berkata apa-apa menunggu kelanjutannya.
            Lalu, pak ustadz itu mengambil gelas yang terisi air dan menuangkannya ke dalam gelas yang kosong. “ Nah, semua masalah yang banyak yang tidak bisa kau tampung, kau bisa membaginya kepada orang lain dengan shearing atau curhat, akan tetapi jangan coba-coba kau membagi masalah pada orang yang mempunyai masalah sama saja kau menuang air ke dalam gelas yang sudah ada isinya.” Husni masih tetap diam ruangpun hening sejenak. “Siap di botak.” Suara pak ustadz yang memecah keheningan. “ Insya Allah ustadz, saya siap.” Jawab Husni dengan muka yang masam. “ Nah gitu, berani berbuat berani bertanggung jawab.”
            Dari kisah tadi kita dapat menyimpulkan bahwa setiap manusia mempunyai masalah, dan masalah itu harus segera diselesaikan bukan hanya di pendam sendiri kita harus membaginya kepada seseorang, membagi dalam artian meminta solusi atas masalah tersebut bukan membagi masalah yang ia punya kepada orang lain agar sama-sama mendapat masalah. BUKAN.       
                  
#Al-Fazari santriwan Al-ataz, berasal dari bekasi, kelas IV Muallimin.

Tidak ada komentar:
Write komentar