Jumat, 20 April 2018

Tepian Hati

Hujan begitu deras...
Sayup angin menggelitik jubahku yang basah.
Terbangkan harapan ke langit malam yang kelam.
Lampau temaram kota yang mulai redup,
Sekali-kali mati, lalu hidup kembali.

Aku berjalan perlahan...
Diantara doa para istri yang menanti suaminya...
Aku berjalan sambil bertasbih dari syurga yang memenjarakanku.
Tangis ini mengalir, dari pipi ku yang memerah.
Ditepian jalan diujung sana, masih terlihat setangkai mawar
Yang terangkai indah..
Yang pernah ku coba berikan untukmu, dan kini hancur...
Karena langkah hujan yang menyapu.

Malam ini takdir menegur sekali lagi,
Mengajarkan aku arti kesedihan, arti kesetiaan.
Sekali lagi aku mengerti, kesetiaan bukanlah sikap kompromi.
Bukan pula janji

Malam ini hatiku beku, malam ini semua
Menjadikan aku mawar yang luka
Dan aku tak tahu, apakah
Mataku akan bercahaya besok pagi
Biarlah malam hari ini aku terlelap
Dilorong hati yang gelap

Menunggu pagi yang tak pasti
Mencoba melupakan, aku pernah disini.
Malam ini...
Membiarkannya pergi, seperti hujan malam ini

Oleh : Siti Khumairoh
*Siti Khumairoh adalah Santriwati kelas V Muallimin.*

Tidak ada komentar:
Write komentar