Senin, 16 April 2018

Ngapain Sih Da'wah..??

             Ada berbagai alasan yang sering di ajuin oleh banyak orang sebagai alasan kuat gak mau da’wah. Dari mulai alasan ilmu yang masih kurang atau akhlak yang masih buruk, sampai memang cuek dan gak mau ngurusin orang lain. Mari kita periksa, cuekisme itu ada di dalam diri kita.?
                Ngapain sih ngurusin oranglain, masing-masing orang kan punya hak asasi untuk berpikir sendiri dan menentukan pilihan. Bukanya Allah saja menjamin bahwa setiap orang bebas memilih buat jadi apa saja ?(LAA IKHRAAHA FIDDIIN) tidak ada paksaan dalam beragama, mau jadi shaleh bagus, mau jadi kafir silahkan, it’s up to you, kalo Allah saja ngebebasin gitu, masa kita yang manusia  ini ngurusin urusan pribadinya orang lain
                Sekilas, alasan di atas terdengar keren, pake ayat Al-Qur’an lagi, tapi mari kita cek lagi apakah pemaknaanya begitu, sehingga kesimpulannya adalah “Kita gak usah berda’wah saja” ngapain sih da’wah-da’wah segala? Yang pentingkan kita sendiri shaleh, gak ngegangguin orang lain, rajin shalat, rajin ngaji, rajin nabung. Dengan begitu, kita kan udah pasti dapet surga. Kalo kita berda’wah justru nanti kita nyakitin orang, bikin dosa, nah loo..!! udah gitu da’wahnya maksa-maksa lagi,ntar malah melanggar hak asasi manusiayang sudah di perjuangkan selama berabad-abad. Agama itu wilayah privat yang ga boleh di ganggu gugat.
                Hhhhmmmm ...pusing juga nih ngejawabnya kalo bacanya sampe di sini doang, bisa-bisa kita bisa batal da’wah. Sebelum kita ngelanjutin mari kita jujur dulu sama hati nurani kita tentang alasan kita yang sebenarnya jangan-jangan timbunan kata-kata indah tadi cuman nutupin ke engganan dan kemalasan kita.
                Ok, sekarang kita mulai jawabnya, tarik nafas dalam-dala. Yooo!!
                Kawan-kawan, seperti yang kita tahu, manusia adalah makhluk sosial yang sangat bergantung satu sama lain. Sebagai cntoh, Bandung yang dulu di kenal sebagai paris van java yang indah,  kini lebih di kenal sebagai kota sampah,. Bisa jadi awalnya seseorang membuang sampah sembarangan dan gak ada yang ngingetin, akhirnya orang itu terbiasa dan menganggap hal tersebut ok-ok ajah. Berikutnya orang lain juga ngikutin , dengan segera penyakit ini menjalar dan tidak mampu lagi terbendung, di tambah dengan manajemen sampah yang gak begitu baik, sampah jadi dengan leluasa terlihat mejeng di mana-mana, akhirnya masalah sampah ini tercium sampai ke level nasional,sampai-sampai ada intruksi pemerintah pusan segala. Gak hanya sampai di situ, di jaman globalisasi yang bikin dunia semakin kehilangan batas-batas ini, keterkaitan itu jadi semaki kuat.
                Keterkaitan ini menjadi argumen “Ruang privat” tadi tidak berlaku bagi da’wah. Maksiat seseorang jelas akan memberikan imbas kepada masyarakat, termasuk simbah-simbah sampai adik-adik bayi yang lucu-lucu. Sebuah analogi pernah di sampai oleh seorang sahabat(Saya lupa analogi ini dari riwayat siapa) tentang ketidak pedulian terhadap da’wah ini. Mohon maaf karna hikayat ini gak berkembang sedikit.
                Alkisah sebutlah sebuah kapal yang sangat megah. Saking megahnya, ruangan penumpangpun di pisah berdasarkan kelasnya, kelas yang paling murah, ekonomi, ada di bagian bawah. Sementara itu, kelas yang paling mahal ada di bagian paling atas, dilengkapi kolam renang dan berbagai fasilitas lainnya, singkat cerita berlayarlah kapal tersebut mengarungi samudra yang biru. Di tengah-tengah samudra yang luas hawa yang panas akibat perubahan iklim gara-gara Amerika tidak mau mendatangkan protokol kyoto membut penumpang ke hausan para penumpang di kelas paling mahal mendapat ice cream, yang segar di tambah dengan berbagai juz sementara itu penumpang di kelas palig murah yang berada di bawah tidak dapat apa-apa. Para penumpang kelas mewah berpikir bahwa masalah makan dan minum adalah urusan privat sehingga mereka membiasakan saja para penumpang di bawah. Akhirnya, ada seorang penumpang kelas ekonomi yang rada-rada dodol (gak tau kalo air laut gak bisa ngilangin aus) langsung ajah ngebor bagian bawah kapal itu buat ngambil air laut, karena orang lain menganggap itu usrusan privat akhirnya ngebor itu di biarkan.
                Seperti kasus lumpur panas PT Lapindo Brantas air kemudian mancur tanpa henti darilubang pengeboran tersebut, gara-gara gak ada yang ngingetin kapal itu akhirnyakemasukan airbyang lantas menghancurkan bagian dalam kapal itu dan membelahnya menjadi dua. Tenggelam lah kapal mewah itu percaya gak percaya, kisah ini adalah versi asli dari tenggelamnya kapal Titanic (wkwkwkw...kalo sampe ada yang percaya kebangetan)
                Nah pada akhirnya kita sampai pada saat yang berbahagia, yaitu bahwa kesimpulan akhir daripada cerita kapal itu adalah bahwa kita semua mesti berda’wah karna setiap kerusakan itu berdampak luas pada masyarakat.

Tidak ada komentar:
Write komentar