Senin, 16 April 2018

Rumah Untuk Guruku...

Namaku Sahila Rihadatul Aisy, aku hanya tinggal bersama nenekku yang bernama nenek Ani dan saat ini aku duduk di kelas 3 SD, sejak kenaikan kelas 3 aku tidak mampu membayar biaya sekolah.
Tiba aku pulang dari sekolah akupun berbicara pada nenek “Nek?” Panggilku kepadanya “Ada apa Aisy?” Ujar nenek “Nek, Aisy dikeluarkan dari sekolah karena tidak mampu membayar uang sekolah” Jelas ku. Nekek pun menangis karena merasa bersalah tidak mampu membayar uang sekolahku. “Aisy maafkan nenek, nenek tidak mampu menyekolahkan mu” Nenek berkata dengan terisak-isak “Nenek tidak perlu minta maaf, nenek tidak salah justru Aisy yang harus berterimakasih sama nenek karena sudah membesarkan Aisy seperti sekarang ini”Jawabku sambil memeluk nenek.
Hingga esok haripun tiba..
 Di siang hari Bu Desi pun datang ke rumahku Bu Desi adalah seorang wali kelas Aisy di sekolah
"Assalamu’alaikum?“ Salam Bu Desi mengetuk ambang pintu rumahku “wa’alaikumussalam” Balasku dari dalam rumah sambil membuka pintu “Bu Desi, ayo masuk” Aku pun mengajak Bu Desimmasuk ke dalam rumah dengan duduk di kursi yang sudah rapuh. “Ada apa bu?” Tanya ku “Kenapa kamu tadi pagi tidak masuk kelas?” Tanya Bu Desi, akupun terdiam dan tunduk sedih. “Aku tidak mampu untuk membayar uang sekolah bu” Jawabku dengan sedih, “Kamu itu pintar, cerdas, rajin, sayang kalo kamu harus putus sekolah di tingkat SD seperti ini nak” Jelas Bu Desi, “Tapi bu, saya tidak mempunyai biaya uang sekolah” Sahut ku, “Oke Aisy, selama kamu SD ibu yang akan membayar biaya uang sekolah kamu” Tawar Bu Desi, “Tidak usah bu” Spontan Aku menjawabnya. “Kenapa? Kamu itu pintar Aisy ibu tidak mau kamu putus sekolah, sudahlah kamu terima saja bantuan ibu nak” Jelas Bu Desi dengan beranjak untuk pamit pulang, “Iya bu akan aku terima bantuan ibu, terima kasih banyak ibu mau membantu ku” Ucap ku, “Sama-sama Aisy, ibu membantu mu karena ibu tidak mau prestasi mu putus begitu saja” Jawab Bu Desi seraya senyum. “Iya bu, sekali lagi terima kasih banyak bu ” Ulang perkataanku sambil mencium punggung tangan Bu Desi. Akupun berlari ke dalam rumah dan menghampiri nenek Ani yang sedang berbaring di atas kasur.”Nenek” Panggilku sambil menghampiri nenek, “Ada apa Aisy? Kok kamu terlihat senang sekali?” Tanya nenek Ani dengan senyuman, “Nek, Aisy dapat biaya sekolah sampai Aisy lulus SD” Jawabku dengan gembira “Dari siapa?” Tanya nenek kepadaku, “Dari Bu Desi wali kelas Aisy di sekolah” Jawabku “Alhamdulillah, Aisy kamu bisa sekolah lagi, nenek pesan kepada kamu belajar yang rajin jangan kecewakan Bu Desi” pesan nenek. Beberapa Tahun Kemudian Aku pun sudah duduk di kelas 3 SMP dan aku ingin masuk ke SMA favorit akan tetapi, aku tidak mempunyai biaya
Ketika aku berjalan untuk mencari kerja dan melanjutkan sekolahku, aku bertemu Bu Desi wali kelas ku, yang selama ini telah membantu biaya uang sekolahku hingga sekarang ini. “Assalamu’alaikum” Salamku dan mencium punggung tangan Bu Desi dan seorang laki-laki yang sedang jalan berdampingan dengan Bu Desi “Wa’alaikumussalam” Ujar mereka berdua, “Apa kabar?” Tanyaku “Ibu baik Aisy, kamu sendiri apa kabar?” Balik bertanya, “Alhamdulillah aku baik bu.Emm itu siapa di sebelah ibu?” Tanyaku seraya meledek, “Oh, iya ibu lupa memperkenalkan kamu, ini suami ibu Pak Dimas guru di depan sekolah SD kita” Jelas Bu Desi, “Oh, suami ibu” kataku, “Emm, kamu mau ke mana Aisy?” Tanya Bu Desi “Aisy.. Aisy.. Aisy.. mau mencari kerja” Jawabku lesuh “Memang nya kamu tidak sekolah?” Tanya Bu Desi, “Aisy tidak punya biaya untuk melanjutkan sekolah lagi bu” Ujar ku sambil tertunduk “Des, mas punya uang” Ucap Pak Dimas “Iya mas, apa uang kita untuk membeli rumah impian kita, kita tunda dulu untuk biaya sekolahnya Aisy” Jelas Bu Desi “Memang kamu tidak keberatan?” Tanya Pak Dimas kepada Bu Desi “Aku tidak keberatan mas” Jawab Bu Desi Akhirnya Bu Desi dan Pak Dimas pun memberi uang mereka untuk membiayakan sekolahku, “Aisy, Ibu sama Bapak Dimas punya uang, kamu pakai saja dulu untuk masuk SMA yang kamu mau” Ucap Bu Desi “Tidak usah bu, Aisy bisa kok cari kerja” Tolak ku, “Terimalah nak, kamu itu pintar Bapak dan Ibu tidak mau lihat kamu putus sekolah” Jelas Pak Dimas, “ta... pi...i... tapi.... ” Raguku dengan nada terputus “Sudah, tidak usah tapi-tapian terimalah ini” cela Bu Desi, “Terima kasih Pak, Bu” Ucap ku dengan gembira “Ya sudah Aisy, Ibu sama Pak Dimas permisi dulu ya” Pamit Bu Desi dan Pak Dimas. Bu Desi dan Pak Dimas pamit dari hadapanku, dan aku pun berjalan untuk pergi mendaftar ke sekolah yang aku inginkan dan beberapa hari kemudian aku pun masuk sekolah yang aku inginkan dan aku mendapatkan Beasiswa ke universitas Oxford Inggris. Aku pun berencana untuk pergi kerumah Pak Dimas dan Bu Desi Tiba aku di rumah Pak Dimas dan Bu Desi, di ketuklah ambang pintu rumah mereka dengan salam. “Assalamu’alaikum” Salamku “Wa’alaikumussalam, siapa yah?” Jawab Bu Desi sambil membuka pintu “Aisy Bu” Ucap ku “Ada apa Aisy tidak biasanya kamu kesini tanpa memberi kabar” Ucap Bu Desi “Hehehe iyah Bu, Aisy ke sini tidak memberi kabar Aisy kesini mau memberi tahu Ibu kalo Aisy mendapat Beasiswa ke Universitas Oxford Inggris” Jelasku dengan hati gembira, “oh, baguslah Aisy, Ibu ikut senang, jangan sia-siakan semua itu ya” Pesan Bu Desi Aku pun terus menjalani pendidikan ku dengan semangat untuk membanggakan nenekku, Bu Desi dan Pak Dimas. Beberapa tahun kemudian tibalah saatnya aku wisuda. “Alhamdulillah yah Nek, Bu, Pak, Aisy sudah bisa mewujudkan cita-citanya Aisy” Ucapku dengan mendorong nenek di kursi roda didampingi oleh Pak Dimas dan Bu Desi. “Iya Aisy kamu hebat, setelah ini kamu bisa mewujudkan cita-citamu lebih tinggi lagi” Ucap Pak Dimas, “Iya Pak, Aisy akan mewujudkan cita-cita Aisy dan membahagiakan kalian” Kataku. Sesampai aku di rumah, akududuk di bawah kursi roda nenek dan berkata “Nek, akhirnya Aisy bisa Wisuda seperti ini dan bisa membahagiakan nenek” Ucapku dengan gembira, “Iya Aisy, selamat ya Aisy akhirnya nenek bisa melihatmu Wisuda” Ucap nenek diiringi dengan batuk, “Iya Nek, sebentar Aisy ambilkan minum dulu” Ucapku sambil beranjak ke dapur. Seketika aku di dapur nenekpun menghela nafas terakhirnya, aku melihat nenek menghela nafas terakhir dan gelas yang berada di tanganku seketika jatuh, “Nenek.. nek.. nenek.. bangun jangan tinggalkan Aisy, kalau nenek pergi Aisy sama siapa” Ucapku dengan tangisan yang deras Beberapa bulan kemudian akupun sukses dan aku sibuk dengan karirku sendiri dan jarang menemui Pak Dimas dan Bu Desi. Di jalan aku melihat seorang anak kecil sedang mengejar layang-layang yang terputus hampir terserempet motor, aku berteriak dan menarik tangan anak itu sehingga aku terjatuh ke tepi jalan, “Kak.. kakak.. bangun ka” Ucap anak kecil sambil menggoyang-goyangkan tubuhku, “kakak tidak apa-apa kok de, kamu sendiri gimana? Tidak apa-apa kan?” Tanyaku, “Aku tidak apa-apa kok kak, oh iya, nama kakak siapa?” Tanya anak kecil, “Nama aku Aisy de” Jawabku, “Nama kamu siapa?” Ku tanya balik, “Namaku Raka kak” Jawabnya, “oh, kamu tinggal di mana de? Kakak akan antar kamu pulang” Ucap ku, “Rumah Raka di belakang bangunan baru kak” Jawab Raka. Sesampainya di rumah Raka dan ternyata Raka itu putra dari Pak Dimas dan Bu Desi, “Assalamu’alaikum ibu” Teriak Raka dan masuk ke dalam rumah “Ibu, tadi aku hampir saja tertabrak motor lalu ada kakak cantik itu yang menolong ku” Ucap Raka kepada Ibunya, “Astaghfirullah, tapi kamu tidak ada yang ku lakukan nak?” Tanya panik Ibunya, “Raka tidak apa-apa kok bu” Jawab Raka, “Syukur deh, oh iya mana kakak cantik yang menolong kamu?” Tanya Ibunya “Itu bu” Tunjuk Raka ke arahku, akupun berbalik badan dan terkejut melihat sosok Bu Desi yang kumal. “Bu Desi?” Ucap ku dengan terkejut, “Aisy, kamu sudah besar cantik pula” Ucap Bu Desi seraya memeluk ku, “Sudah berapa lama bu kita tidak bertemu?” Tanyaku, aku pun menangis dan memeluk Bu Desi dengan sangat erat hingga aku berlutut kepada Bu Desi, “Ibu maafin Aisy, karena Aisy Ibu tidak bisa membeli rumah yang Ibu impikan sama Pak Dimas” permohonanku dengan rintihan tangis, “Kamu tidak salah Aisy, kamu sudah ibu anggap anak ibu sendiri” Ujar Bu Desi sambil mengangkat kedua bahuku, “Ibu, Aisy tidak tau harus bagaimana untuk membalas semua kebaikan ibu” Ucapku dengan tangisan, “Ibu tidak minta apa pun dari kamu, ibu melihat kamu sukses ibu sudah bangga nak” Ucap Bu Desi, “Makasih ya bu” Ucap ku. Sampai di rumah aku melihat tabunganku dan berencana ingin membelikan rumah untu Bu Desi dan Pak Dimas. “Tabungan ku sudah cukup untuk membeli rumah, untuk Pak Dimas dan Bu Desi impian yang sudah lama tertunda karena aku” Batinku berkata. Pagipun tiba, aku bergegas untuk membersihkan badan dan bergegas pergi ke rumah Bu Desi. Sesampainya di rumah Bu Desi, “Bu Aisy datang” Ucap ku dengan gembira, “Kak Aisy, ada apa kakak datang ke rumahku?” Tanya Raka, “Kakak mau mengajak kalian ke suatu tempat” Ketika Raka dan aku sedang berbincang-bincang Bu Desi dan Pak Dimas pun menghampirinya, “Hey Aisy, Ibu dan Bapak sudah siap nih, memang nya kamu mau mengajak kami ke mana?” Tanya Bu Desi, “Sudah Bapak sama Ibu sama Raka ikut aku yuk” Ajak ku.
Mereka pun berjalan untuk pergi ke tempat tujuan, sesampainya di tempat, “Ini rumah siapa Aisy” Tanya Bu Desi, “Ini, ini, ini rumah Pak Dimas, Bu Desi dan Raka” Kataku, “Ini surat rumahnya Pak, Bu, tolong ya terima” Mohonku, “Tidak usah Aisy, ngapain kamu membeli rumah sebagus ini untuk kami, mending uangnya kamu tabung untuk keperluanmu” Ucap Bu Desi, “Ibu, Bapak, ini balas budi Aisy untuk kalian yang sudah banyak bantu Aisy dari kecil hingga sekarang. kalau tidak ada kalian, Aisy tidak mungkin bisa seperti ini. Ya, Aisy yakin rumah ini belum bisa balas seumua jasa Ibu dan Bapak. Tapi, Aisy ikhlas kok” Jelasku dengan tulus, “Baik akan Ibu terima rumah ini, asalkan kamu tinggal bersaa kami, apa kamu mau?” Tanya Bu Desi, “Insyaallah Aisy akan tinggal bersama kalian” Jawabku. Akhirnya aku bisa mewujudkan RUMAH UNTUK GURUKU.

#Maulida fitria adalah santri wati asal bojong menteng, termasuk anggota qolami.

Tidak ada komentar:
Write komentar