Selasa, 24 April 2018

Adil Tak Harus Sama

Adil menurut bahasa adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Adil juga berarti tidak berat sebelah, tidak memihak atau menyamakan yang satu dengan yang lainnya. Adapun Adil menurut istilah adalah menegaskan sesuatu kebenaran terhadap masalah atau beberapa untuk dipecahkan sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya agar berlaku adil. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An-Nahl: 90)

Sebagai gambaran dari keadilan Rasulallah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah ketika beliau menjadi kepala negara dan hakim, beliau selalu menerapkan keadilan dengan betul, hingga beliau

Pernah menyatakan: “Jika sekiranya Fatimah binti Muhamad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (HR. Bukhori).

Subhanallah, Rasulullah dengan tegas menyatakan tidak adanya pilih kasih dalam menegakkan keadilan bahkan jikalau putrinya Beliau mencuri maka Rasulullahlah yang akan memotong tangan putrinya sendiri.

Berlaku adil bukan berarti harus sama-sama rata dalam membagi sesuatu, akan tetapi adil lebih condong kepada meletakkan sesuatu sesuai tempatnya. Contohnya anak TK tidak mungkin mendapatkan uang saku sama dengan anak SMP, karena jika sama justru ini tidaklah adil. Jika adil adalah sifat dan sikap Fadhilah (utama) maka sebagai kebalikannya adalah sikap dzalim. dzalim berarti menganiaya, tidak adil dalam memutuskan perkara, berarti berat sebelah dalam tindakan, mengambil hak orang lain lebih dari batasnya atau memberikan hak orang lain kurang dari semestinya. Ada sebuah syair arab nan indah,yang perlu untuk kita cermati bersama:

“Aku mengenal keburukan bukan untuk berbuat keburukan. Namun aku mengenalnya agar bisa menjauhinya. Karena orang yang tidak mengenal keburukan, biasanya akan terjerumus ke dalamnya.”

Ke dzaliman terbagi dua, yaitu mendzalimi diri sendiri, dan mendzalimi orang lain. Mendzalimi diri sendiri ada dua bentuk yaitu syirik dan perbuatan dosa atau maksiat. Mendzalimi orang lain adalah menyakiti perasaan orang lain, mensia-siakan atau tidak menunaikan hak orang lain yang wajib ditunaikan.  dzalim  secara istilah mengandung pengertian “Berbuat aniaya terhadap diri sendiri atau orang lain dengan cara-cara batil yang keluar dari jalur syariat Agama Islam.”

Di antara perbuatan-perbuatan Dzalim yang  mengotori hati yaitu Ghasab (meminjam bukan haknya), sombong, dengki (tidak suka terhadap kebahagian orang lain), Ghibah (membicarakan keburukan orang lain), fitnah (menuduh tanpa bukti yang kuat), adu domba (bermuka dua), dusta (bohong), ujub (bangga diri dengan merendahkan orang lain), dan lain sebagainya.  Dalam pergaulan dan interaksi kita dengan orang lain, sebaiknya benar-benar menjaga perkataan dan sikap kita agar tidak menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain, apalagi sampai berbuat dzalim. Kalau kita tidak sengaja melakukan kesalahan kepada orang lain saja, kita harus segera minta maaf, terlebih lagi bila kita dengan sengaja melakukannya.

Yang lebih berbahaya lagi, apabila kita menyakiti seseorang dan orang tersebut tidak ikhlas, serta berdoa memohon kepada Allah, mengadukan kedzaliman yang menimpanya dan memohon pertolongan dan perlindungan dari Allah. Serta dalam doanya, ia menyatakan bahwa ia tidak ikhlas atas perbuatan dzalim yang dilakukan seseorang, maka tunggu saja, keadilan dari Allah, pasti akan mendatangi orang yang telah mendzaliminya, entah itu di dunia ini atau di akhirat kelak.

Oleh : R Bunga Salsabila
*R. Bunga Salsabila adalah Santriwati kelas IV Muallimin asal Bekasi.
Ia pun slaha satu anggota dari tim redaksi Qalami. dan dia merupakan salah satu dari kontributor di Pondok Pesantren Al-Hidayah Al-Mumtazah yang turut membantu dalam penerbitan dan pengentrian artikel, berita dan catatan dalam bentuk media digital*

Tidak ada komentar:
Write komentar