Minggu, 11 Februari 2018

Penyesalan Aku Bu

 
Terniang termenung sendiri
dalam ruang hampa yang pengap
dalam ruang yang sangat sunyi
dalam suasana hati yang gundah gelisah

Disudut ruang terbesis cahaya lilin
memberikan penerangan diruang yang gelap
menyinari seluruh sudut ruang dalam hati
yang s’lalu terniang wajah yang dicinta
Wahai angin yang bertiup kencang diluar sana
sudikah engkau menyimpaikan isi hatiku
sebuah perasaan yang sudah lama ku pendam
yang tak pernah tersimpaikan dari mulutku yaog kaku

I B U …..,
dalam do’a ku meminta maafmu
dalam tangis ku memohon ampunmu
dalam mimpi ku bersujud di kakimu
memohon ampun atas dosa dan keselahanku padamu
Penyesalan

Hanya ada duka dari balik kepergianmu
Setelah lama berdiam dalam kesesatan
Kini sadarku telah sadar setelah kehilangan
Engkau berakhir dalam awal kelahiran nuraniku

Penyesalan tak pernah ada guna
Tak mungkin mengembalikan nyawa yang terlanjur melayang
Di setiap tetes air mata yang mengaliri pipi
Hanya sesal yang kurasa menemani

Tidakkah aku malu menjadi anakmu
Ketika aku sakit dan kau selalu merawatku
Ketika engkau sakit, aku hanya sibuk dengan duniaku
Menunda harapanmu hingga asa sirna karena maut

Dimana nuraniku saat terakhir kau meminta bertemu
Namun ego ku mengalahkan kasihku padamu
Kini hanya tinggal penyesalan yang dapat kuhaturkan
Untuk mu Ibu, Maafkan Aku.

Kenangan Tak Terbatas

Aku masih ingat saat engkau berbaring lesu
Mengernyitkan dahi seraya menahan sakitmu
Namun senyum itu mencercah cahaya
Dari balik ketabahan seorang ibu

Bersimpuh hatiku dari haribaan jemari dindu
Dalam nyanyian Tuhan yang mengalir lewat suaramu
Dan sentuhanNya menggapai melalui lembut belaimu
Dan kasingNya merasuk lembut dari setiap cintamu

Ibu, adakah aku ini anak nan durhaka?
Yang tak pernah mampu membalas kebaikan cintamu
Sementara engkau begitu kasih dalam mecintaku
Hingga batas kasih tak terselubung dari segala batas.

Oleh : Zathwa Ananda
*Zathwa Ananda adalah Santriwati kelas II Muallimin asal Bekasi*

Tidak ada komentar:
Write komentar