Kamis, 07 Desember 2017

Rumah Impian


Oleh : Sandi Permana
Akhirnya aku memiliki rumah yang selama ini menghantui fikiran ku selama 30 tahun silam ketika usia ku masih 10 tahun. Walaupun rumah ini tidak begitu mewah, tapi ini kudapat kan dengan uang hasil kerja keras ku sendiri. Hari ini adalah hari pertama aku menempati rumah ini, jadi barang-barang pun masih berantakan, aku bersama dengan istriku langsung membereskan barang-baran.

5 jam sudah aku dengan istriku membereskan rumah, dan akhirnya selesai juga. Aku bersama istriku terkulai lemas di sofa. "Akhirnya selesai juga," desah ku dengan suara ter engos-engos. Istriku mengangguk saja dengan mata tertutup.

Tiba-tiba aku teringat pesan-pesan ibuku sehingga air mataku tidak dapat terbendung lagi. Aku berusaha menahan air mata itu dengan menghirup udara panjang. "Huuuuuuuup... haaaaaahh." Hatiku mulai merasa tenang, dan air mataku tidak menetes lagi. "Ibu kini aku berhasil memiliki rumah impian kita," ucap ku di dalam hati. Ketika aku memejamkan mata, aku terbayang kenangan pahit 30 tahun yang lalu.

*****

Pagi itu waktu sudah menunjukan pukul 6 pagi, ketika ayahku jatuh di kamar mandi. Nafas nya sesak dan tubuh nya tidak dapat bergerak. Bukan kali ini saja Ayah jatuh di kamar mandi, namun kali ini ayahku terlihat begitu parah, sehingga tubuhnya tidak bisa bergerak.

Saat itu masih belum ada puskesmas di kampung kami. Rumah sakit hanya ada di kota berjarak 10 KM, terpaksa ayah ku dirawat di rumah dengan obat-obatan seadanya. Keluargaku hanya tinggal di sebuah gubuk yang hanya beratap terpal dan dilapisi jerami. Ketika hujan, rumahku sering banjir karena atap rumahku banyak yang bocor. Setelah sehari kejadian yang menimpa ayahku, keesokannya, hujan turun begitu deras. Hingga membuat rumahku basah.

"Farid, cepat bawakan ibu ember," teriak ibu dengan wajah cemas.

"Iya bu," sontak Farid terkejut.

"Cepat Rid, kasihan bapak mu kena basah," kata ibu dengan wajah khawatir, sambil mengelap lantai yang terbuat dari bambu. Dengan segera, aku mengambil ember dan langsung ku tadah kan di tempat yang bocor itu. Ayahku hanya bisa melihat dari tempat berbaring nya sambil meneteskan air mata.
Suatu ketika, ibuku menyuruh aku kerumah pak de ku untuk meminta izin tinggal dirumah nya sementara waktu.

"Rid, kamu pergi kerumah pak de mu, ibu minta izin untuk tinggal dirumah nya untuk sementara waktu selama ayahmu sakit," kata ibu sambil menyentuh bahuku dengan mata yang berkaca-kaca.

Aku bergegas pergi kerumah pak de yang terletak di ujung kampung. kebetulan pak de sedang duduk santai didepan rumah nya. Tanpa basa-basi, aku langsung menyampaikan maksud kedatanganku, tanpa aku duga ternyata pak de menolak permohonan Ibu. "Maaf Rid. besok anak-anak pak de akan datang, kalau ibu sama ayahmu disini, ayah kamu bisa terganggu."

Aku pulang ke rumah dengan tangan hampa. Ibuku menunggu dengan harapan. "Bagaimana Rid? boleh tinggal di rumah pak de?" Tanya ibu dengan penuh harapan. Aku menggeleng dengan lemah. "Tidak bu, anak-anak pak de besok akan datang." Seketika, wajah Ibu terlihat sangat kecewa. "Sifat fikir pak de mu itu tidak pernah berubah, bahkan walaupun adiknya sakit parah," ujar ibu dengan suara bergetar. Ayah terpaksa dirawat yang selalu bocor itu.

Hari demi hari ter lewati, ayah pun tak kunjung sembuh, malah keadaannya makin parah. Satu minggu setelah ibu meminta izin pada pak de, tepat pada pukul lima pagi Ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Ibu menjerit histeris. Aku pun tidak kalah kaget nya karena adalah anak tunggal dalam keluarga, hatiku merasa sangat terpukul dengan kepergian ayah.

Mendengar berita kematian adik nya, pak de terkejut. Ia minta maaf kepadaku dan juga Ibu. Namun Ibu tidak menyahut tanpa sepatah kata pun. Ketika malam hari, pada saat orang-orang berta'ziah sudah pulang. Ibu berpesan kepadaku, "Farid, ibu harap suatu hari nanti kamu jadi orang kaya dan punya rumah bagus. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi kepada keturunan kita," suara Ibu bergetar dan airmata Ibu membasahi pipinya. Aku hanya bisa menunduk, tanpa berani menatap wajah Ibu. "Doakan aku bu."

Sebagai janda yang memiliki anak yang masih sekolah, ibu harus bekerja keras untuk membiayai sekolahku dan memenuhi kehidupan sehari-hari. Ibu telah bersumpah, tidak akan lagi meminta bantuan pada pak de. ibu melakukan hal apa saja yang ia bisa, selagi itu halal untuk makan dan membiayai sekolahku.

"Kamu enggak boleh putus sekolah nak, kamu harus jadi orang pintar. Karena hanya dengan ilmu kamu bisa merubah nasib dan harga diri keluarga kita." Begitu selalu pesan Ibu padaku. Berkat perjuangan dan doa Ibu, aku berhasil meraih pendidikan sampai S1, dan aku menyelesaikan sekolah ku di UIN jakarta. Ketika ibu mengantar ku ke Stasiun, ibu berpesan kepadaku. "Jagalah sholat, semoga kau berhasil nak." Ibu memeluk ku erat. Air mata ku pun menetes.


Tidak ada komentar:
Write komentar