Kamis, 17 Agustus 2017

Kiprah Politik Perempuan dalam Islam

Assalamualaikum.Wr.Wb

Pertama-tama, marilah kita ucapkan kalimat syukur kepada Allah Azza Wajalla Sang pemilik keagungan,yang telah menganugerahkan beribu-ribu nikmat Sehingga, kita bisa bertemu pada edisi kali ini dalam keadaan sehat wal-afiat, Alhamdulillah.
Kedua kalinya, sholawat teriring salam senantiasa tetap tercurahkna kepada nabiullah Muhammad SAW. yang telah menyelamatkan kita dari zaman kedholiman menuju shirot yang diridhoi Allah yakni dinul Islam.
Para pembaca sekalian…..
pada edisi ini penulis akan membahas tentang kiprah perempuan. Perlu kita ketahui bersama bahwa tugas perempuan ternyata tidak hanya berjubel diantara dapur, sumur dan kasur saja, tetapi ia juga memiliki andil dalam kehidupan politik. Artikel yang penulis paparkan pada terbitan kali ini berjudul:
KIPRAH POLITIK PEREMPUAN DALAM ISLAM
Saudara- Saudaraku yang dirahmati Allah. . . . .
Sebagaimna yang telah kita pahami bersama, bahwa perempuan disamping sebagai hamba Allah, ibu dari anak-anak, istri dari seorang suami, dan anak dari ayah bundanya, perempuan juga sebagai bagian dari masyarakat sama halnya dengan laki-laki. Keberadaan laki-laki dan perempuan ditengah-tengah masyarakat tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain. Keduanya bertanggung  jawab menghantarkan bangsanya untuk menjadi umat terbaik di dunia. Inilah salah satu aktivitas politik yang harus dilakukan oleh laki-laki dan perempuan secara bersama-sama dan berkesinambungan. Terkait dengan hal di atas, Rasulullah SAW. Bersabda:
ما من عبد استرعاه الله  رعية لم يحطها بنصيحة الا لم يجد راىحة الجنة (البخارى)
Artinya: Seseorang yang ditetapkan Allah dalam kedudukan mengurus kepentingan umat, sementara dia tidak memberikan nasehat kepada mereka (umat), niscaya tidak akan mencium bau syurga (HR. Bukhari)
Tidak dapat dipungkiri, bahwa selama ini terdapat kesalahpahaman terhadap aktivitas politik perempuan. Sebagian mereka memandang bahwa keterlibatan perempuan dalam dunia politik dianggap tidak layak dan melanggar fitrah. Seakan-seakan politik bukan milik dan bagian perempuan. Dalam persepsi mereka, politik identik dengan kekerasan, kekuasaan, kelicikan dan tipu daya yang hanya pantas menjadi milik laki-laki saja, bahkan dianggap tidak ada relevansinya dengan Islam.
            Padahal jika kita tilik kembali makna politik dalam lughah arab “as-siyasah adalah mengurus kepentingan seseorang. Artinya politik sebagai pemelihara urusan umat”. Terkait dengan definisi di atas, Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 103 yang berbunyi:
ولتكن    
 منكم آمة يدعون الى الخير ويامرون بالمعروف وينهون عن المنكر وآلىىك هم المفلحون
Artinya: hendaklah ada diantara kalian segolongan umat yang menyerukan kebaikan (Islam), memerintahkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali-Imran:103). 
            Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah dan Rasul-Nya memerintah kaum muslim, baik laki-laki msupun perempuan untuk ikut serta memperhatikan dan memikirkan umatnya, termasuk memperjuangkan agar upaya pemeliharaan urusan umat terlaksana.
            Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah. . . .
Kita kembali kecuplikan awal yang mengatakan bahwa keterlibatan prempuan dalam dunia politik dianggap melanggar fitrah. Tidak! Itu adalah statemen yang salah,  karena pada hakekatnya, ktika muslim muslimah berupaya memfungsikan segenap potensi insaniyahnya untuk menyelesaikan urusan umat, maka pada saat itulah tampak keterlibatannya dalam aktivitas politik.
Lantas, jika keterlibatan perempuan dalam masalah politik dianggap melanggar fitrah, maka fitrah manakah yang dilanggar? Bukankah secara fitrah perempuan adalah bagian dari masyarakat, dan juga harus ikut andil untuk kemaslahatan umat. Bahkan, justru perempuan harus berkiprah dan berperan aktif di berbagai bidang, termasuk dalam bidang politik. Sebagaimana  Islam memandang bahwa keberadaan laki-laki dan perempuan hakekatnya sama yaitu sebagai hamba Allah yang memiliki potensi berupa akal, naluri, dan kebutuhan fisik. Keduanya diciptakan untuk mengembangkan tanggung jawab yang sama dalam mengatur dan memelihara kehidupan ini sesuai dengan kodrat manusia sebagai manusia di muka bumi. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 30 yang berbunyi:
واذ قال ربك للملاىكة اني جا عل فى الارض خليفة قالواا أتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك قال اني آعلم مالا تعلمون
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat,” Sesungguhnya Aku hendak menciptakan/menjadikan seorang kholifah dimuka bumi”. Mereka berkata” mengapa Engkau hendak menjadikan kholifah dimuka bumi ini orang yang akan membuat kerusakan padanya dan pertumpahan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau? Tuhan berfirman” sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah:30) 
Dari sini jelas bahwa politik merupakan bagian dari kehidupan perempuan. Hanya saja, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perempuan dalam merealisasikan kewajibannya: pertama: harus disadari bahwa terjunnya perempuan ke dunia politik bukan untuk mencari pangkat atau jabatan, namun tidak lain dan tidak bukan kcuali hanya untuk melaksanakan perintah Allah.                         Kedua: Allah telahmenetapkan bentuk-bentuk aktivitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh perempuan.
Kesimpulannya: Perempuan dan politik adalah dialektika terhadap seluruh aspek dalam hubungan dn dinamika social, mulai dari rumah tangga sampai ruang lingkup pemerintah dan Negara. Paradigm yang mengatakan bahwa politik hanya milik kalangan laki-laki harus segera  diubah.
             Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah. . . .
Mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua amien…
Wallahul muaffiq ila aqwamitthoriq warridho wal inayah.

Wassalamualaikum.Wr.Wb

(Ustdh. Nur Maida)





Tidak ada komentar:
Write komentar