Rabu, 05 April 2017

Penyakit Hati


Bicara mengenai hati, dalam hal ini yang perlu anda ketahui adalah hati itu merupakan sebuah cermin bagi setiap orang yang memilikinya. Hati dalam ilmu kedokteran adalah salah satu organ yang ada di dalam tubuh kita, hati merupakan sebuah organ yang sangat penting, baik ditinjau dari segi ilmu kesehatan maupun dari segi ilmu agama. Mengapa hati dianggap sebagai organ penting?Sebab jika ditinjau dari segi ilmu kedokteran hati merupakan salah satu alat ekskresi yang dimiliki oleh manusia. Sedangkan jika ditinjau dari segi ilmu agama, hati merupakan cerminan pribadi seseorang. Hati secara bahasa Arab adalah Qalbun adalah bagian yang sangat penting pada manusia. Jika hati kita baik, maka baik pula seluruh amal kita.

      Rasulullah Saw bersabda: “Bahwa dalam diri setiap manusia terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh amalnya, dan apabila ia itu rusak maka rusak pula seluruh perbuatannya. Gumpalan daging itu adalah hati.”(HR Imam Al-Bukhari) 

     Dalam hal ini karena hati merupakan sebuah organ yang sangat penting maka hati perlu untuk dijaga secara ekstra hati hati, baik dijaga dari segala penyakit yang berhubungan dengan ilmu kesehatan maupun dijaga dari segala penyakit hati menurut Islam. Sebaliknya, orang yang dalam hatinya ada penyakit, sulit menerima kebenaran dan akan mati dalam keadaan kafir.

 وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَتۡهُمۡ رِجۡسًا إِلَىٰ رِجۡسِهِمۡ وَمَاتُواْ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ١٢٥ 

“Orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya yang telah ada dan mereka mati dalam keadaan kafir.”
[At Taubah:125]

    Oleh karena itu penyakit hati jauh lebih berbahaya daripada penyakit fisik, maka kita perlu mengenal beberapa penyakit hati. 

Macam-macam penyakit hati 

1. Munafik
      Orang munafik adalah orang yang berpura-pura atau ingkar. Apa yang mereka ucapkan tidak sama dengan apa yang ada di hati dan tindakannya. Orang munafik itu ngakunya beriman, akan tetapi dalam hati dan tindakannya ingkar atau kafir. Imannya hanya di lisan saja, tetapi peraktiknya tidak sesuai dengan apa yang dibicarakannya. Tanda-tanda orang munafik ada tiga. Dan dijelaskan dalam hadist Rasulullah Saw. 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَال:قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م (آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَاائْتُمِنَ خَانَ) متفق عليه

Dari Abu Hurairoh ra. Berkata Rasulullah Saw: "Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: Apabila berkata dia berbohong, apabila berjanji dia mengingkari, apabila dia dipercaya dia berkhianat.”
HR. Bukhori & Muslim 

Sifat orang munafik juga dapat merugikan banyak orang contohnya adalah berkhianat atau tidak memegang amanah, dan kepercayaan yang diberikan orang lain disia-siakan. Dan Allah tidak suka pada orang yang berkhianat. Jika ada di antara manusia yang berkhianat, sungguh Allah akan menjauhi orang-orang yang berkhianat itu. 

2. Buruk sangka
      Suudzon atau buruk sangka termasuk penyakit hati. Kalau punya kebiasaan berburuk sangka, sebaiknya dihindari. Hal ini karena belum tentu yang kita sangka itu benar. Contoh prasangka buruk misalnya: kita curiga kepada seseorang dan menganggapnya mencuri. Kenyataannya belum tentu demikian, bisa jadi kita keliru. Curiga seperti itu adalah salah. Seharusnya kita harus menyelidiki kebenarannya dulu dan mencari bukti. 

Dalam hadits rasulullah Saw. Bersabda: 

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Saw. Bersabda:”berhati-hatilah berprasangka sebab hal itu merupakan perbuatan yang keliru.”(H.R. Bukhori dan Muslim) 

3. Dengki
       Orang pendengki adalah orang yang paling rugi. Ia tidak mendapatkan apapun dari sifat buruknya itu. Bahkan, pahala kebaikan yang dimilikinya akan terhapus. Islam tidak membenarkan kedengkian. Dan dengki berarti tidak mempercayai pembagian karunia Allah kepada hamba-hamba-nya. Dan karunia Allah kepada setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang dilebihkan, ada juga yang tidak. Itu semua sunnatullah.

 أَمۡ يَحۡسُدُونَ ٱلنَّاسَ عَلَىٰ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۖ فَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ ءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَءَاتَيۡنَٰهُم مُّلۡكًا عَظِيمٗا ٥٤ 

Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.”[An nisa`:54]

Iri hanya boleh dalam 2 hal. Yaitu dalam hal bersedekah dan ilmu. “Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada jalan yang benar, dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksanaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya.”(HR. Bukhari) 

Dengki lebih parah dari iri. Orang yang dengki ini merasa susah jika melihat orang lain senang. Dan merasa senang jika orang lain susah. Tak jarang dia berusaha mencelakakan orang yang dia dengki baik dengan lisan, tulisan, atau pun perbuatan. Oleh karena itu Allah menyuruh kita berlindung dari kejahatan orang yang dengki. 

4. Riya`
      Riya’ adalah berbuat kebaikan/ibadah dengan maksud pamer kepada manusia, agar orang mengira dan memujinya sebagai orang yang baik atau gemar beribadah seperti shalat, puasa, sedekah, dan sebagainya. 

يَٰٓأَيُّهَاٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِي يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِٱلۡأٓخِرِۖ...الآية 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.”[Q.S Al Baqarah:264] 

 فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٤ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٥ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ ٦ 

 “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya.” [al-Ma`un:4-6] 

Ketika ada seorang hamba berdua dengan Allah Sang Raja Segala Raja, dia malas dan enggan beribadah.Tapi ketika ada manusia yang tak lebih dari hamba/budak Allah, maka dia jadi rajin shalat, bersedekah, dan sebagainya untuk mendapat pujian para budak. Agar terhindar dari riya’, kita harus meniatkan segala amal kita untuk Allah ta’ala (Lillahi ta’ala). Semoga kita dimasukkan ke dalam orang-orang yang istiqomah di jalan yang benar dan lurus. Amien!

Sumber: Oleh: Adipati Rexso Adji Pamungkas




Tidak ada komentar:
Write komentar