Kamis, 16 Juni 2016

Review: Never Give Up

Assalamualaikum wr.wb Halo semuanya… Kenalkan nama saya Thitin Fatimah Arrahmat, dan nama panggilannya Thifa or Thitin. Alhamdulillah dengan segala syukur dari Allah SWT yang telah memberikan rahmatNya, bahkan beribu-ribu nikmat, sehingga saya bisa menyelesaikan tugas saya dengan baik. Alhamdulillah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing umatnya. Terimakasih saya ucapkan kepada Al-Mukarrom Ustad Fannil Abror yang telah membimbing saya selama mengerjakan kursus computer.
Menulis tugas referensi ialah suatu tantangan bagi saya yang belum pernah tahu akan hal referensi. Tetapi, Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan tugas ini yaitu mereferensi sebuah buku ataupun novel. Saya mereferensi sebuah novel yang ditulis oleh Inni Indarpuri yang berjudul “Never Give Up”. Semoga kalian bisa memahami dengan cermat pembahasan tentang novel tersebut. Dan pastinya referensi novel ini masih banyak kekurangan yang harus diatasi. Silahkan kritik dan sarannya atas buk referensi saya. Semoga kalian mengerti. Wassalamualaikum wr.wb Sebuah novel yang akan menginspirasikan jutaan orang untuk tidak lupa bersyukur pada setiap tarikan nafas yang dianugerahkan oleh sangn pencipta.
Sebuah novel yang dibuat untuk para remaja dan para orangtua untuk tidak mudah galau apalagi menyerah. Perlu keberanian untuk menceritakan dan menuliskan kisah seorang kakak beradik yang mengalami penyakit lupus.
Karena keping demi keping kehidupan yang mereka jalani sungguh berbeda dengan kisah remaja kebanyakan. Bukan karena tulisan ini tercekat atau kehilangan kata-kata, namun perlu “kekuatan lebih” untuk menuangkan segala kisah yang terhimpun selama mereka mengenal sebuah keluarga dan seorang sahabat yang selalu penuh untuk mendukung mereka.
Setiap keping demi keping yang tertuang, adalah wajah akan semua orang yang mereka cintai. Rehana, kakak dari Puri dan sahabat-sahabatnya yang menyusul satu persatu, juga kesakitan demi kesakitan yang mereka rasakan. Air mataku luruh pada setiap kepingnya. Jika kemudian mereka bisa menyelesaikan keping-keping ini, tak lain karena rasa syukur atas segala anugerah Ilahi yang membuat mereka mampu menjalaninya selama ini.
Tulisan adalah sebuah janji, untuk menularkan semagat hidup, berbagi kepada orang-orang yang pernah terpuruk karena berbagai ujian hidup. Karena ada satu hal yang dapat dipetik dari pelajaran kehidupan dimulai dari menghargai setiap tarikan nafas yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Rehana dan Puri adalah dua orang kakak beradik yang sama-sama mengalami lupus. Penyakit lupus yang pertama kali dialami dan dirasakan oleh Rehana. Ketika Rehana mendapati penyakit lupus, ia sangat terpuruk akan cobaan yang telah menimpanya, tetapi dia mencoba untuk berusaha menerima kenyataan hidup.
Hari demi hari pun ia jalani dengan hati yang ikhlas. Setiap dua minggu sekali ia menjalani terapi hemodialisa atau cuci darah untuk menyambung hidup. Sebagai pasien lupus dan GGK (Gagal Ginjal Kronik), tidur nyenyak adalah kesempatan yang langka, terlebih malam hari karena insomnia yang lebih sering menemani. Sedangkan subuh hari digantikan oleh nyeri sendi yang acapkali datang. Siapapun yang berada di sisi Puri sekarang tidak tega melihat kondisi kakaknya saat ini.
Rehana adalah kakak semata wayang Puri, dan Rehana adalah sosok wanita yang aktif. Setiap hari selalu ada kegiatan yang menyita waktunya, melakukan berbagai penelitian, bahkan sekali-kali ia menulis artikel diberbagai surat kabar. Sekarang kegiatan Rehana hanyalah tak lain menjalani terapi hemodialisa atau cuci darah yang membuatnya tak leluasa bergerak, kelumpuhan dikakinya semakin berkontribusi membuat aktivitasnya lumpuh, sama dengan kondisi kakinya yang lumpuh. Tetapi meskipun begitu Rehana selalu semangat menjalani hidupnya layaknya seperti orang sehat. Mengetahui bahwa penyakit berkepanjangan itu disebabkan oleh serigala lupus, bagi sebagian penderita laksana memasuki sebuah labirin yang panjang. Jika beruntung bertemu dengan dokter yang tepat dan jeli, dan telah menangani banyak pasien lupus. Pasien dapat keluar dari labirin yang membingungkan. Jika tidak, hanya berkawan dengan pemeriksaan demi pemeriksaan, ketidakpastian, opname demi opname, dan dugaan demi dugaan yang berarah ke penyakit lain.
Sekarang bukan hanya Rehana yang mempunyai penyakit lupus, tetapi Puri juga mengalami hal yang sama dengan kakaknya. Meskinya mereka maklum bahwa lupus dibawa melalui gen, bisa saja mengenai Puri, karena dia berasal dari gen yang sama.
Cepat atau lambat penyakit itu akan menggerogoti tubuh Puri. Ia mengenal lupus lebih dari mengenal sahabatnya. Lupus menghantuinya sejak lama dan sekarang ia telah berwujud nyata.
Bersyukur Rehana dan Puri masih mempunyai keluarga dan sahabat-sahabat yang peduli, menjaga dan merawat mereka. Meskipun Rehana mengalami penyakit yang memakan usia, ia berusaha menyelesaikan tesisnya. Ia berusaha keras untuk menyelesaikan tugas akhir sampai ajal menjemputnya.
Setelah ia menyelesaikan tesisnya, lupus pun kambuh membuat seluruh tubuhnya sakit yang tidak tertahankan. Kondisinya pun semakin memburuk, karena tekanan darahnya tak terkontrol. Setelah besok harinya pun ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Satu orang, dua orang, tiga orang yang berpulang diruang hemodialisa. Puri merasa bersyukur kepada Allah, karena ia diberi kesempatan lebih dari orang-orang yang mempunyai penyakit lupus.
Puri merasa paling sehat diantara mereka. Meskipun ia juga mengalami penyakit yang sama, namun ketika empat orang, lima orang dan seterusnya Puri mulai merasa kehilangan mereka. Dan hari ini ketika Allah memanggil Rehana pulang, rasa syukurnya benar-benar terkubur, yang tersisa hanyalah rasa takut.
Sebuah pertanyaan pun bergelaut disepanjang malalm ini. Kapan tiba gilirannya? Masih dalam linangan air mata, mata Puri tertumbuk pada tesisnya Rehana yang berada dibawah rak bawah meja belajarnya. Tesis yang belum sempat diperbanyak, masih bersimpuh di map kuning seperti yang Puri lihat pada malam terakhirnya.
Tesis ini adalah dokumentasi karya terakhir Rehana, yang dikerjakan dengan susah payah dan sungguh-sungguh sehingga ajal menjemputnya. Setelah meninggalnya Rehana, posisi Rehana pun digantikan oleh Puri dengan menjalani berbagai pengobatan dan terapi hemodialisa setiap dua kali dalam satu minggu. Tetapi Puri mempunyai semangat yang luar biasa untuk melawan penyakitnya demi untuk memperpanjang usia. Puri tidak akan menyerah dengan semua cobaan hidupnya. Beberapa bulan kemudian Puri rajin dengan semangat yang tinggi karena menjalani terapi hemodialisa cuci darah setiap dua kali satu minggu. Ia pun sembuh dari penyakitnya.
Maha suci Allah yang telah mendengar dan mengabulkan doa yang setiap tarikan nafas ia ucapkan. Alhasil semuanya terjawab dengan usaha yang sungguh-sungguh dan pengorbanan hidup yang Puri jalani. Seorang Puri bisa membuktikan ke semua orang, bahwa semua orang yang berpenyakit pun bisa hidup seperti orang sehat karena mempunyai semangat yang tinggi untuk berjuang menjalani hidup. Maha suci Allah, maha suci Tuhan yang maha pencipta. Tuhan, terimakasih atas usia yang Kau anugerahkan kepada Puri hingga hari ini. Terimakasih atas perpanjangan usianya sehingga Purih lebih menghargai setiap tarikan nafasnya. Sykurnya terbesar adalah saat ia tertiup angin kencang, lalu merasa tersingkirkan dari pentas dunia yang indah. Disaat yang bersamaan ia merasakan betapa tingginya cinta kasih orang-orang sekelilingnya yang mendukung. Maka rasa sykur Puri bertambah atas karunia-Mu ini. Alhamdulillahirabbil ‘alamin.


 Oleh: Thitin Fatimah

Tidak ada komentar:
Write komentar