Sabtu, 18 Juni 2016

Review: Jadilah Bunga Akhir Zaman

Hai, perkenalkan nama saya Nily Rahmi. Teman-teman biasa memanggil nama saya Nily. Sekarang saya duduk dikela 3 SMA. Tidak panjang lebar, langsung saja disini saya ingin mereferensi buku yang ditulis oleh seorang penulis bernama Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Arify yang berjudul “Jadilah Bunga Akhir Zaman”. Menjadi penghias di akhir zaman adalah dambaan setiap insane. Penghias yang bukan sekedar penghias secara fisik, melainkan psikis yang menyebarkan bau harum diseluruh alam raya ini. Bau harus dari nama terindah karena baiknya akhlak yang dimiliki. Jadilah Bunga Akhir Zaman ini adalah sebuah imbauan dan ajakan bagi kaum muslimah agar terjaga dari perbuatan kotor yang dilancarkan setan yang notabene suka dengan hal-hal yang dilarang agama. Islam sangat memperhatikan posisi wanita muslimah hingga menjaga derajat mereka dengan memberikan perhatian khusus dalam hal penampilan. Penampilan yang bagus dan berdasarkan syariat akan menjaga mereka dari hal-hal yang tidak diinginkan. Kisah dari beberapa wanita yang mempertahankan beberapa keimanannya meskipun siksaan dan kepedihan menimpa mereka dikupas tuntas dalam buku ini. Mereka berjuang sekuat tenaga hingga ajal menjemputnya. Buku ini akan memberikan inspirasi dan motivasi kepada setiap wanita muslimah serta kaum muslimin untuk mempertahankan keimanannya meskipun ujian datang berganti. Selamat membaca. Kisah Gadis Rusia Adalah seorang gadis Rusia yang berasal dari keluarga terhormat, penganut Kristen Ortodok yang sangat fanatik. Seorang saudagar Rusia mengajaknya pergi bersama para wanita ke negara Teluk untuk membeli suku cadang elektrik, sekaligus meminta mereka untuk menjualkannya di Rusia. Inilah kesepakatan diantara saudagar dan wanita-wanita itu. Ketika mereka tiba disana, si saudagar memperlihatkan wanita-wanita itu kepada teman-temannya. Saudagar menawarkan pekerjaan dengan hasil yang menggiurkan. Mereka disuruh melakukan pekerjaan yang hina, dengan harta berlimpah, dan memperoleh hubungan yang luas. Para wanita itu pun tergiur dan tertarik dengan tawaran itu, kecuali gadis Rusia itu karena dia terlalu fanatik dengan agama Nasraninya, diapun menolak tawaran itu. Mengetahui tawarannya ditolak, saudagar itupun menertawakannya dan berkata “engkau terbuang di negeri ini. Tidak ada yang engkau miliki, kecuali hanya pakaian di badan dan aku tidak akan pernah memberi sesuatu pun”. Si gadis Rusia pun mulai galau. Dia harus tingga serumah dengan para wanita lainnya yang sudah terjerumus ke lembah kemaksiatan karena paspor mereka disembunyikan oleh saudagar itu. Gadis Rusia itu tetap berusaha menjaga kesuciannya. Setiap hari ia mendesak saudagar agar mengembalikan paspornya atau memulangkannya kembali ke negaranya. Sang saudagar tetap menolak permintaannya. Pada suatu hari gadis Rusia itu pun mencari paspornya didalam rumahnya dan dia menemukannya. Namun, malang baginya karena saudagar itu mengetahuinya dan berusaha merampasnya. Gadis itu berusaha melarikan diri dan lari menuju jalan. Tak ada yang dibawanya, kecuali pakaian yang melekat di badannya. Pikirannya menerawang, tidak tahu harus pergi kemana, tidaka keluarga, tidak ada kenalan, sepeser uang pun tidak ia miliki, tak satupun orang yang dikenalnya. Tiba-tiba gadis itu melihat seorang pemuda dengan tiga wanita. Dia pun senang dengan kemunculan mereka. Lalu, dia menemui mereka dan berbicara dengan bahasa Rusia. Pemuda itu minta maaf karena tidak bisa bahasa Rusia. Gadis Rusia itupun bertanya “apakah kalian bisa berbicara dengan bahasa Inggris?” mereka menjawab “iya”. Mendengar jawaban itu, sang gadis pun merasa gembira. Dia pun bercerita sampai menangis. Pemuda bernama Khalid itu berpikir sejenak dengan permasalahan gadis itu, mungkin saja ini adalah tipuan atau memang dia seorang penipu. Sang gadis memandang Khalid, lalu menangis. Khalid pun meminta pertimbangan kepada ibu dan dua saudarinya. Khalid membawa gadis itu ke rumah mereka. Hal inilah yang membuat gadis itu merasa senang kepada mereka. Kemudian, mereka mengajaknya untuk masuk Islam, tetapi ia tolak. Dia tidak mau bahkan pada dasarnya ia tidak suka berdiskusi tentang agama karena dia berasal dari keluarga (ortodok) yang fanatik, sangat benci pada agama Islam dan kaum muslimin. Beberapa hari telah berlalu, gadis itu mulai memperhatikan kajian-kajian keislaman dan antusias dengan majelis wanita shalehah. Sekarang justru ia takut kembali ke Rusia karena hal itu bisa menyebabkannya kembali ke agama Nasraninya yang sudah ditinggalkannya. Khalid pun menikahi gadis Rusia itu. Dia menjadi seorang musliman yang sangat berpegang teguh dengan agama Islam dibandingkan dengan kebanyakan wanita muslimah lainnya. Suatu hari ia pergi bersama suaminya ke pasar dan melihat seorang wanita yang berhijab, wajahnya ditutup (memakai cadar). Baru pertama kali ia melihat seorang wanita berhijab secara sempurna. Dia merasa aneh dengan pakaian wanita itu. Dia berkata pada suaminya, Khalid “mengapa pakaian wanita itu seperti itu? Apakah ia terserang penyakit yang mengakibatkan wajahnya menjadi buruk sehingga ia menutupnya?” Khalid menjawab “bukan, wanita itu berhijab dengan suatu hijab yang diridhai Allah SWT dan yang sesuai dengan perintah Rasulullah SAW”. Gadis Rusia itu menjawab “saat ini ketika aku masuk ke dalam pasar manapun, seluruh pemilik toko tidak henti-hentinya memandang wajahku. Mereka hampir mengamatinya sisi demi sisi. Jadi, wajah ini mesti ditutup, hanya suamiku yang boleh melihatnya. Dan aku tidak akan pernah pergi ke pasar ini, kecuali dengan hijab seperti itu. Dimana kita dapat membelinya?” Khalid berkata “tetap sajalah engkau dengan hijabmu yang sekarang ini, seperti ibu dan kedua saudariku”. “Tidak! Bahkan aku ingin berhijab yang sesuai dengan keridhaan Allah SWT”. Pada suatu hari Khalid melihat paspor istrinya, ternyata masa berlakunya hampir habisa dan mesti diperbaharui. Khalid pun memutuskan untuk pergi bersama istrinya, karena ia tidak ingin istrinya pergi tanpa mahram. Mereka pergi dengan pesawat penerbangan Rusia. Dia tetap memakai hijab dengan sempurna. Dia duduk disamping suaminya yang penuh wibawa. Khalid berkata, “aku takut kita mendapat masalah yang disebabkan hijabmu ini”. Istrinya menjawab “Subhanallah, apa engkau ingin aku menaati orang-orang kafir dan mendurhakai Allah? Demi Allah, tidak! Terserah apa kata mereka!”. Orang-orang mulai melihatnya. Pramugari pun mulai menghidangkan makanan dan minuman keras. Minuman ‘setan laknatullah’ itu mulai dihidangkan kepada para pembesar. Kata-kata yang tidak pantas keluar dari sana sini, yang diarahkan kepada istrinya. Mereka bergurau, tertawa dan mengejek sambil berdiri disamping Khalid dan istrinya. Khalid memperhatikan mereka, tetapi dia tidak paham sedikitpun apa yang mereka ucapkan. Merasa ada yang aneh, Khalid menjadi marah. Istrinya menenagkannya, “jangan sedih, jangan pula sesak dadamu. Ini masalah sederhana dibandingkan masalah ujian yang dihadapi para sahabat laki-laki dan perempuan”. Ia berusaha menenangkan suaminya agar bersabar hingga pesawat mendarat. Ketika kami sampai di bandara, aku berpikir bahwa kami akan tinggal bersama dirumah keluarga istriku. Istriku berkata, “keluargaku (ortodok) sangat fanatik pada agama Nasraninya, jadi aku tidak ingin pergi kesana sekarang. Kami pun menyewa penginapan dan tinggal disana. Keesokan harinya kami pergi ke kantor imigrasi. Kami menemui seorang pegawai, ia meminta paspor lama dan foto istriku. Segeralah ku keluarkan foto istriku yang berwarna hitam putih yang hanya kelihatan sekitar wajahnya. Pegawai itu berkata, “foto ini tidak sesuai aturan, yang kami inginkan adalah foto berwarna yang memperlihatkan wajah, rambut, dan pundak secara keseluruhan”. Istriku tetap pada pendiriannya, “aku tidak akan pernah untuk selama-lamanya memberikan foto yang menampilkan aurat kepada mereka”. Sang direktris berkata, “kalau begitu, masalahmu ini tidak akan pernah selesai, kecuali oleh direktur utama pada kantor imigrasi pusat Makow”. Kami pun keluar dari kantor imigrasi itu. “Tidak mungkin aku memberikan foto yang menampilkan aurat, setelah aku mengetahui agama Islam”. Keesokan harinya kami pergi ke kantor imigrasi. Kami menemui petugas pertama hingga ketiga, bahkan kami terpaksa harus menghadap direktur utama. Dia seorang yang sangat kasar, ketika melihat paspor istriku, dia berkata “siapa yang dapat memastikan kepadaku bahwa ini adalah fotomu?” istriku berkata “katakan kepada petugas atau sekretaris wanitamu, datanglah kepadaku untuk melihat wajahku. Karena aku tidak akan pernah memperlihatkan wajahku kepadamu”. Mendengar jawaban istriku, marahlah direktur utama itu. Istriku tetap berusaha meyakinkan agar sang direktur mau menerima fotonya. Namun, semua percuma saja. Aku menoleh kepada istriku dan berusaha membujuknya, “wahai kekasihku, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS Al-Baqarah: 286). Kondisi kita sekarang ini darurat, sampai kapan kita akan berpindah dari beberapa kantor imigrasi?” Istriku berkata “barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (QS Ath-Thalaq: 2). Setelah kami kembali ke penginapa, aku dan istriku beristirahat. Setelah itu, istriku menunaikan shalatnya dan terus shalat, berdoa atau menangis sampai terbitnya fajar. Istriku berkata “mari kita pergi ke kantor imigrasi”. Aku bertanya untuk menegaskan “kita pergi ke kantor imigrasi? Untuk keperluan apa? Mana fotonya? Bukankah kita tidak memiliki foto yang mereka inginkan?”. “Kita pergi untuk mengusahakannya. Jangan putus asa dari karunia Allah”, tukas istriku. Kami pun pergi menuju kantor imigrasi. Demi Allah, bukan yang pertama kali kami menginjakkan kaki dari beberapa kantor imigrasi. Mereka melihat istriku dan dapat mengenal dari bentuk hijabnya. Tiba-tiba seorang petugas memanggilnya “engkau wahai fulanah?” aku berkata “iya”. Dia berkata “ambillah paspormu, sudah selesai. Lengkap dengan fotonya yang berhijab (tanpa cadar)”. Istriku sangat gembira. Kami mengunjungi keluarga istriku. Sampailah kami dirumah keluarganya. Saudara tuanya membukakan pintu. Kemudian, dia membuka cadar yang menutupnya, dia tersenyum dan menyambutnya. Saudaranya hanya menatap istriku ketika raut wajah adiknya. Antara gembira melihat adiknya kembali dengan selamat dan merasa aneh dengan pakaiannya yang serba hitam menutupi seluruh tubuh. Istriku masuk kedalam kamar. Aku mendengarnya berbicara bersama mereka dengan bahasa Rusia. Aku tidak paham sedikitpun, tetapi dalam waktu sekejap terdengar suara bentakan yang makin keras. Logatnya pun berubah. Teriakan makin meningi. Seluruh keluarganya berteriak kepadanya, saling bersahutan antara saudara satu dan lainnya. Tiba-tiba muncul seorang pemuda, di depan mereka ada seorang laki-laki yang berumur 30-40 tahunan. Mereka menghampiriku, tiba-tiba menyerangku seperti binatang buas. Sambutan mereka berubah menjadi doronga, pukulas, dan tamparan. Aku berusaha membela diri dari serangan mereka. Mereka mengejarku, lalu aku menyusup di keramaian manusia hingga hilang dari pandangan mereka. Aku berkata dalam hati “aku selamat. Tapi bagaimana dengan keadaan istriku sekarang?”. Aku mengkhawatirkan istriku hingga beranjak siang. Mulailah setan melancarkan aksinya dan berkata kepadaku “dia akan murtad dari agamanya? Dia akan kembali ke agama Nasraninya dahulu, lalu engkau kembali ke negaramu sendirian”. Aku pergi menyelidiki kabar istriku. Dan akhirnya apa yang aku dapatkan sama sekali tidak melihat istriku. Dan pada hari keempat tiba-tiba pintu dibuka. Seketika wajah istriku muncul dari balik pintu itu. Aku menoleh kanan kiri. Aku perhatikan wajahnya yang memerah, tampak membiru legam karena banyaknya tamparan yang dia terima. Kakinya diikat dengan rantai ketika melihatnya. Aku menangis, aku tidak sanggup menguasai diriku. Istriku meluapkan kesedihannya dengan perlahan karena pengaruh siksaan yang sangat pedih dan berkata “dengarlah suamiku, jangan engkau ragu kepadaku. Sesungguhnya aku tetap teguh diatas janji demi Allah, yang tidak ada lah selain-Nya. Sesungguhnya apa yang aku hadapi sekarang ini tidaklah sebanding dengan sehelai rambut pun atas apa yang dihadapi oleh para sahabat dan tabi’in bahkan para Nabi dan Rasulullah SAW sekalipun. Suamiku, aku berharap engkau tidak ikut campur dalam permasalahan aku dan keluargaku. Cepatlah pergi sekarang dan tunggulah aku di penginapan sampai aku datang menemuimu. Insya Allah, perbanyaklah berdoa, qiyamul lail, dan shalat sunnah. Aku pun pergi dari hadapannya. Tinggal lah aku dikamar sehari penuh menantinya, hari demi hari berlalu hingga hari ketiga. Aku merasa putus asa hingga datang gelapnya malam. Tiba-tiba istriku datang dan kami pun secepat mungkin pergi dari penginapan kami dan pergi ke bandara. Sesampainya di bandara internasional, kami memesan tiket pesawat untuk kembali ke negaraku. Aku bertanya kepada istriku “apa yang telah terjadi pada dirimu?”. Dia menjawab “ketika aku masuk kedalam rumahku, aku duduk dengan keluargaku, lalu mereka bertanya kepadaku “pakaian apa ini?” aku jawab “ini adalah pakaian wanita Islam”. Mereka bertanya “siapa laki-laki yang bersamamu itu?” aku jawab “dia adalah suamiku. Aku masuk Islam dan menikah dengan pemuda suamiku”. Aku pun menceritakan kisahku kepada keluargaku dan kisah “saudagar” Rusia yang ingin membawaku ke tempat pelacuran. Mereka bertanya “seandainya engkau menempuh jalan hina itu maka kami lebih menyukainya daripada engkau datang kepada kami sebagai seorang muslimah”, lalu mereka berkata “tidak akan pernah engkau keluar dari rumah ini, kecuali engkau menjadi ortodok atau menjadi mayat yang tenang!” Dan seketika itu juga mereka membawaku dan mengikat kedua tanganku ke belakang bahu. Aku dicambuk, dipukul tiada hentinya hingga aku pingsan. Yang mereka pinta dariku hanya satu, yaitu agar aku murtad dari Islam. Kecuali adik perempuanku, yang berumur 15 tahun. Dia datang kepadaku dan tertawa melihatku, lalu berkata kepadaku “kenapa engkau meninggalkan agamamu, agama yang dianut oleh ibu, bapak, dan kakek nenek?”. Aku berusaha meyakinkan dengan menerangkan tentang Islam kepadanya, dn hatinya mulai tersentuh. Dan dia berkata kepadaku “engkau berada diatas kebenaran. Islam adalah agama yang benar. Ini adalah agama yang pantas untuk aku ikuti juga”. Dia berkata kepadaku “aku akan menolongmu dan membebaskanmu dari sini”. Dan adik perempuanku menepati janjinya, dia benar-benar masuk agama Islam dan menolongku untuk bisa menemui suamiku. Aku berkata “apa yang akan terjadi terhadap saudarimu nanti?” istriku menjawab “tidak masalah, selama ia tidak memberitahukan keislamannya kepada mereka, sampai kita mengatur rencana untuknya”. Sekarang kami mendoakan saudari istriku agar Allah SWT menetapkannya diatas agama Islam. Demi Kamu, Kami Hancurkan Tengkorak Begitu tinggi kedudukan seorang wanita hingga agama sendiri memuliakan wanita karena dia diumpamakan sebagai peperangan, tengkorak dihancurkan, dan kepala bercerai-berai karena membela kehormatan seorang wanita. Ahli sejarah menceritakan bahwa orang Yahudi tinggal di lingkungan masyarakat muslimin di Madinah. Mereka menjadi marah karena turunnya ayat tentang perintah berhijab sehingga pada wanita muslimah menutup aurat. Mereka ingin mengubahnya dengan menanam kerusakan dan memecah persatuan umat Islam. Tetapi mereka tidak sanggup. Pada suatu hari seorang wanita muslim masuk ke pasar Yahudi Bam Qalnuqa’. Adalah seorang wanita yang menjaga kehormatan dengan menutup aurat. Dia datang kepada tukang perhiasan yang ada diantara mereka. Si Yahudi pun benci dengan pakaiannya yang menutup aurat dan kesuciannya. Kaum Yahudi merasa nikmat dan senang jikalau bisa memandang wajah wanita, menyentuh, dan mempermainkannya sebelum Islam datang untuk memuliakan wanita. Mereka ingin membuka wajahnya dan merayunya agar dapat melepaskan hijabnya. Tetapi wanita itu enggan dan menolak. Akhirnya tukang perhiasan itu membuat sang wanita lengah ketika sedang duduk. Kemudian tukang perhiasan itu mengambil ujung pakaian si wanita dari bawah dan mengikatkan ke jilbabnya yang terayun-ayun dibelakang punggungnya. Disaat si wanita itu berdiri, berangkatlah pakaiannya dari belakang dan sehingga terbukalah auratnya. Melihat oemandangan itum tertawalah si Yahudi tadi. Wanita muslimah yang suci itu berteriak. Dia lebih senang jika mereka membunuhnya daripada terbuka auratnya dihadapan mereka. Tatkala seorang laki-laki dari umat Islam melihat kejadian itu, serta merta dia mencabut pedangnya, lalu menyambar tukang perhiasan itu dan membunuhnya. Orang Yahudi itu pun marah, lalu membunuh laki-laki itu juga. Tatkala Rasulullah SAW mengetahui hal itu, artinya orang Yahudi telah melanggar janji dan mengganggu wanita muslimah. Rasulullah pun memboikot dan menjatuhkan hukuman kepada mereka. Wanita Miskin Sesungguhnya wanita yang menganggap enteng dengan membuka aurat dan jalan-jalan dapat membawa kehancuran dan menjadi orang yang paling hina di sisi manusia lainnya. Pernah ditanyakan kepada beberapa orang laki-laki “apa yang menyebabkan kalian membuntuti wanita yang berada di mall dan di sekolah, lalu bagaimana pandanganmu terhadap wanita yang mengacuhkanmu?” Mereka menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya kami hanya menghinanya, mempermainkannya, dan menahannya. Jika kami sudah puas, kami akan menendangnya dengan kaki”. Bahkan ada juga yang berkata “Demi Allah, wahai Syeikh, sesungguhnya apabila aku pergi ke pasar dan melihat wanita yang menjaga kehormatannya, dirinya sempurna menutupi aurat, dia menjadi mulia dalam pandanganku dan aku tidak sanggup untuk mendekatinya. Bahkan Demi Allah, jika aku melihat seseorang mendekatinya, aku akan membela wanita itu”. Perhatikanlah, apa yang terjadi di suatu negara yang penduduknya mendengung-dengungkan kebebasan? Di Amerika setiap hari terjadi pemerkosaan terhadap wanita berjumlah 1.900 orang. 20% dari mereka diperkosa oleh orangtuanya. Setiap tahun terjadi pembunuhan terhadap anak-anak berjumlah 1 juta orang, antara aborsi dan pembunuhan disaat kelahiran. Di Amerika juga terjadi perceraian hingga 60% dari jumlah perkawinan. Di Inggris, 170 pemuda melakukan perzinaan setiap minggu. Demi Allah, berapa banyak wanita di negara itu yang berangan-angan dapat menutup aurat dan menjaga kehormatan. Barang siapa yang telah disesatkan oleh setan laknatullah, dia akan menaatinya dan mendahulukan syahwat dirinya, mengikuti tren dalam berpakaian dan busana, mencabut alis, membuat tato, nyanyian, film-film dan majalah. Syahwat itu menjadi sangat berharga di sisinya daripada mengikuti syariat Rabbnya. Dialah wanita yang durhaka. Neraka tidak diciptakan, kecuali untuk memberi pelajaran kepada orang yang durhaka. Dijelaskan dalam sebuah hadits yang artinya : “Dari Abi Hurairah r.a berkata, “pada suatu hari kami bersama Rasulullah SAW dan kami menengar suara dentuman.” Rasulullah SAW pun bertanya “apakah engkau mengetahui suara apa itu?” Kami menjawab “Allah dan rasulnya yang tahu”. Beliau bersabda, “ini adalah suara batu yang dijatuhkan ke dalam neraka jahanam sejak 70 musim (tahun) yang lalu yang sekarang baru sampai ke dasaranya”. (HR. Muslim). Penutup Mutiara yang diperlihara, aku bisikkan ke dalam telingamu, aku mengharapkan agar dapat sampai ke hatimu sebelum ke telingamu. Janganlah engkau tertipu dengan banyaknya wanita yang melakukan maksiat. Janganlah engkau tertipu dengan banyaknya wanita yang menganggap enteng hijab, yang melakukan cumbu rayu dengan para pemuda atau hatinya bergantung pada kerinduan yang menggebu-gebu dan cinta yang membara serta melakukan perbuatan yang haram. Perhatikan mereka hanya pada teater dan film-film. Mereka hidup tanpa aturan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya engkau berada diatas kebenaran yang nyata, janganlah tertipu dengan banyaknya wanita yang berjatuhan (berbuat maksiat). Dan jangan pula melemahkanmu dengan sedikitnya orang yang istiqomah. Aku mohon kepada Allah SWT agat Dia memeliharamu dengan penjagaannya, menolongmu dengan kekuasaannya dan menjadikanmu termasuk wanita-wanita yang beriman, bertakwa yang berdakwah dan beramal saleh. Aamiin Ya Rabbal ‘alamin. Wassalam. 

 Oleh: Nily Rahmi

Tidak ada komentar:
Write komentar