Kamis, 16 Juni 2016

Review: Apple Wish

Assalamualaikum.. To the point aja ya.. Perkenalkan nama saya Lilis Mulyanah, terserah mau manggil apa aja yang penting enak didengarnya. Baiklah, saya disini hanya inginmereferensikan sebuah novel karya “Alfian Daniear” yang berjudul Apple Wish. Sebab saya mereferensi novel ini karena Apple Wish menginspirasi saya untuk terus mengejar mimpi dimasa depan, alur ceritanya membuat rasa semangat saya bertambah. Jadi, wajib bagi kawan membaca novel ini. Maaf, jika referensi saya jauh dari kata sempurna, tolong dimaklum saja, karena ini pertama kalinya saya mereferensi sebuah buku @novel. So, maaf kalau banyak kesalahan didalamnya. Oke, selamat membaca.. Nathan penulis amatiran yang berprinsip anti pacaran dan nilai sekolahnya berantakan. Yourissa, calon atlet bulutangkis muda yang berani kehikangan cinta sekaligus gagal jadi juara. Takdir mempertemukan keduanya ratusan kilometer jauhnya dari kota asal mereka. Insiden berebut stop kontak mengawali perjumpaan Nathan dan Yourissa yang mempunyai karakter bagaikan langit dan bumi. Berbeda dengan remaja seumuran Nathan, tak pernah terbuai dengan manisnya cinta pertama atau cinta monyet. Nathan punya prinsip kalau masa SMA harus dimanfaatkan untuk meraih mimpi. Nathan telah memilih untuk menjadi penulis novel Fantasi Indonesia yang menembus New York times best seller, walaupun orangtuanya seperti menantang keinginannya untuk menekuni bidang itu. Notebook adalah segala-galanya bagi Nathan. Karena tantanga orangtuanya, sahabatnya Feliz menyuruh Nathan untuk mengikuti lomba penulisan novel. Temanya romance remaja. Tema romance menjadi tantangan untuk Nathan, tapi, Nathan tak akan menyerah karena hal ini sebagai bukti kepada orangtuanya kalau dia penya potensi besar dalam menulis. Ketika Nathan beranjak pergi dari gedung olahraga, setelah tadi tak melihat pertandingan Feliz, Nathan baru menyadari jika flashdisknya tertinggal. Setelah menemukannya Nathan mendengar isak tangis, dan itulah pertama kali Nathan bertemu Yourissa. Menjelang liburan sekolah, terbesitnya ide Nathan untuk berlibur di Malang. Yourissa yakin bahwa bulutangkis bukan hobinya, bulutangkis adalah mimpi dan masa depannya. Tapi, semuanya berubah ketika Stephan memutuskan hubungannya dengan Yourissa. Akibatnya, pikirannya menjadi kacau dan Yourissa kalah mengikuti lomba olimpiade. Semenjak kekalahannya Yourissa merasa mimpi masa kecilnya semakin jauh. Semua latihannya serasa tak berguna, sia-sia. Ironisnya, sosok yang ia sayangi kini tak ada lagi dan sosom itu pun lah yang membuatnya kini jatuh. Yourissa ingin sekali meninggalkan Jakarta sejenak dan melupakan masalah-masalah yang sedang menimpanya. Dia berharap bisa segera move on dari Stephan dan berharap bisa semangat bermain bulutangkis lagi. Yourissa berkeinginan menyegarkan hati dan pikirannya di Malang. Untuk itu kesempatan bepergian bersama keluarga ke Malang untuk menghadiri acara hajatan tante Rania tak bisa dilewatkannya begitu saja. Di kereta, Yourissa bercerita kepa Rafless, kakaknya bahwa dia sudah putus dengan Stephan. Tiba-tiba mata Yourissa menangkap sepasang mata dibalik kerumunan para pedagang yang berlalu lalang. Deg. Mata itu, Yourissa tak mampu membohongi dirinya kalau sepasang mata itu mengingatkannya pada Stephan. Cowok itu berjalan melewati tempat duduk Yourissa begitu saja. “Semoga di Malang aku bisa ngelupain semuanya beban yang kualami dan kegagalan di bulutangkis kemarin”. Yourissa menggumamkan harapan. Hujan tak pernah mengenal musim. Menjelang subuh, gerimis menyapa Malang. Rafless mengajak Yourissa pergi bersamanya untuk menemui temannya. Bakti, sepupu Nathan mengajaknya pergi ke Apfel Liebe. Nathan tak punya pilihan lain kecuali mengikuti sepupunya untuk pergi. Nathan terkejut ternyata Apfel Liebe milik mbak Ajeng, kakak sepupunya sekaligus kakaknya Bakti. Yourissa duduk dimeja kayu samping kedai. Lima menit lalu Rafless membawanya ke tempat ini. Dari tempat duduknya Yourissa bisa melihat pemandangan bukit hijau kota Batu. Rafless meminta untuk mengobrol bersama temannya itu dan meninggalkan Yourissa sendirian di kursinya. Sepasang remaja yang baru saja duduk di seberang mejanya berhasil mengalihkan pandangan Yourissa. Melihat mereka tampak bahagia dan penuh cinta, tiba-tiba membuat Yourissa teringat Stephan lagi. Dengan cepat Yourissa mengalihkan pandangannya ke jendela. Namun sekuat apapun matanya berusaha focus melihat pemandangan diluar sana, hatinya dan pikirannya dengan mudah memutar kenangannya ketika bersama Stephan. Tapi, dia langsung teringat tujuan utamanya ke kota ini, ingin melupakan segala permasalahan. Yourissa beranjak dari tempat duduknya. Yourissa baru sadar desain kedai itu sangat menarik dan juga fresh. Yourissa mengalihkan pandangannya ke depan. Piramida apel berhasil menjerat matanya. Yourissa mengitari piramida, dia sempat membaca tulisan kecil di dasar piramida “Try it for Free”. Tanpa raguYourissa mengambil sebutir apel. Buah itu tampak begitu segar dan menggoda. Krush, gigitan pertama berhasil memenuhi mulut Yourissa. Pada saat bersamaan Yourissa terpana memandang wajah oval dengan sepasang mata tajam berwarna hitam, mengingatkan Yourisa pada seseorang yang membuatnya jatuh cinta, namun kini membuatnya terluka. Merasa ada mata yang sedang mengamatinya, Nathan menoleh dan mendapati sesosok gadis berparas imut tengah menatapnya tanpa berkedip. Nathan berharap gadis itu mengatakan sepatah kata, namun gadis itu tak kunjung bersuara. “Hei”, tegur Nathan. Gadis itu segera tersadar. “Ma, maaf”. Kata gadis itu akhirnya. Nathan hanya membalas dengan seringai kecil sambil berlalu. Meski Nathan sudah pergi, gadis itu seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi. Bukan, cowok itu bukan Stephan. Mereka hanya agak mirip, pikirnya. Tiba-tba Yourissa mendengar panggilan masuk dari mama. Saat melihat layarnya muncul simbol peringatan lowbat. Yourissa mencari stop kontak disekitarnya dan menemukan notebook yang sedang tersambung. Melihat notebook itu sedang tidak terpakai, tanpa pikir panjang ia mengganti dengan chargernya. Nathan panik notebooknya dicabut karena data yang ia ketik tadi belum di save. Yourissa meminta maaf kepada Nathan tetapi maafnya tak akan pernah mengembalikan data Nathan. Yourissa memilih pamit melihat respon Nathan yang tak acuh, tapi sebelumnya Yourissa mengajak Nathan berkenalan terlebih dahulu sebelum beranjak pergi. Keesokan harinya, Nathan kembali lagi ke Apfel Liebe. Daripada disuruh bantu-bantu dirumah, Yourissa lebih memilih ikut kakaknya pergi ke Apfel Liebe lagi. Ternyata disana sedang mengadakan lomba “Snow White Challenge”, yang pesertanya remaja anak-anak SMA. Selama menunggu persiapan lomba, Nathan menyempatkan diri untuk kembali berkutat dengan naskahnya. Karena ia masih kesulitan mengeksplorasi nuansa romantis yang sedang digarapnya. Nyanyian selamat ulang tahun terdengar beberapa saat kemudian. Ingin rasanya Nathan menyuruh bocah-bocah itu untuk diam. Namun tiba-tiba Nathan menangkan beberapa kata yang terucap diantara kumpulan remaja itu. “Hoi, mana apelnya?”. Suara seorang cowok lebih dominan daripada yang lainnya. Apel. Nathan menyimpan kata itu dalam pikirannya. “Waktunya make a wish”. Terdengar suara cewek ditengah tepuk tangan yang riuh. “Wish”. Kata kedu berhasil disimpan Nathan, di kepala Nathan. Dua kata yang sukses menciptakan letupan kembang api spektakuler di dalam dadanya. Apple wish, cowok itu mendapatkan gambaran tentang jalan cerita yang akan dia tulis dalam naskah. Bakti menyuruh Nathan mengikuti lomba. Tanpa menolak, Nathan mengikuti perinta Bakti. Yourissa terpaksa tak bisa menolak bujukan Ajeng dan Rafless untuk ikutan lomba. Saat-saat seperti ini mengingatkan Yourissa pada klub bulutangkisnya. Keduanya shock karena dipasangkan berdua. Nathan tertantang oleh ucapan Yourissa dan berambisi memenangkan lomba. Ditengah lomba, mereka mulai menyerah. Tanpa diduga, pipi kirinya disengat oleh lebah. Nathan panik dan langsung memberikan pertolongan pertama pada Yourissa. Nathan membimbing Yourissa untuk duduk istirahat di bangku dekat pohon. Pohon apel. Tak terasa keduanya ngobrol masalah masing-masing. Sebelum beranjak Yourissa melihat sesuatu berkilau dari apel di hadapannya. Nathan menghampiri apa yang dilihat Yourissa. Dan ternyata setelah melihat, Nathan langsung tersenyum sambil mengacungkan sebuah apel dengan angka tiga keemasan. Nathan dan Yourissa masuk ke babak final dari Snow White Challenge. Aturannya hanya suruh memakan apel yang rasanya pedas. Kelompok lain mengalami kesulitan, bahkan ada yang sudah menyerah. Ketika tinggal satu gigitan terakhir, lantas ia menatap Yourissa sesaat. “Kita juaranya, kemenangan ini buat lo”, kata Nathan. Mendengar pernyataan itu, Yourissa terpana. Nathan diajak pergi oleh kak Ajeng ke panti asuhan, dan sepulangnya dari tempat itu membuat Nathan sadar akan keegoisannya. Nathan mengajak Yourissa untuk bertemu dan mengajaknya pergi ke sebuah tempat yang membuat Yourissa penasaran. Tetapi perginya memakai sepeda. Ternyata Nathan mengajak Yourissa ke lapangan bulutangkis. Dia duduk sambil mengamati anak-anak yang sedang bermain bulutangkis. Membuat Yourissa teringat masa-masa awal berlatih bulutangkis. Mengingat kenangan itu, Yourissa tersadar ia sudah melalui banyak sekali waktu bersama bulutangkis. Dia punya mimpi besar dalam bulutangkis. Keduanya berbincang tentang mimpi masing-masing. Nathan memberi apel kepada Yourissa karena teringat adegan di novelnya. Tokoh utamanya punya cara istimewa dan unik untuk menyatakan mimpi. Apel mengingatkan tokohnya yang membangkitkan semangat. Hanya dengan menggigit apel, mereka berjanji untuk meraih mimpi mereka. Tanpa ragu, keduanya, Nathan dan Yourissa mengucapkan mimpi mereka. Dua hari tak bertemu, Yourissa merasakan sesuatu yang berbeda darinya. Mungkinkah ini rasa jatuh cinta? Yourisa berusaha mengontrol gejolak dalam hatinya. Karena saat ini, bukan waktu yang tepat untuk jatuh cinta. Setelah pertemuannya dengan Yourissa, Nathan seperti punya semangat baru untuk membuktikan kepada orangtuanya kalau ia bisa jadi seorang penulis. Nathan juga merasakan hal yang sama seperti yang Yourissa rasakan. Tetapi keduanya mencoba untuk memungkiri rasa masing-masing. Sore hari Nathan merasa gelisah, karena tak bertemu Yourissa. Yourissa mengajak Nathan untuk bertemu. Keduanya masuk ke wahana lampion garden, menjelajahi lampion garden sambil mengambil beberapa foto di beberapa lampion. “Lampion ibarat harapan dan impian”, ucap Nathan. Yourissa tak paham apa maksudnya. “Lampion menjadi secercah cahaya yang menerangi kegelapan, sama halnya dengan harapan dan impian. Selama manusia masih menyimpan harapan dan impian dalam kondisi sesuram atau sesedih apapun, mereka pasti punya petunjuk. Mereka selalu punya hal yang menerangi hati mereka”. Mendengar ucapan Nathan, Yourissa tersenyum. Nathan teringat kalau Yourissa mau berbicara padanya. Yourissa bilang kalau dia mendapat telepon dari panggilan masuk Pelatnas di Jakarta dan akan berangkat besok siang. Nathan ikut bahagia atas kabar itu, tetapi hatinya seperti tak bahagia. Ketika Nathan mencoba mengungkapkan perasaanya, Yourissa berpikir masih ada banyak mimpi yang ingin mereka raih. Jadi dia memutuskan untuk mengejar mimpi masing-masing terlebih dahulu. Nathan dan Yourissa saling pandang. Ada jarak tak terjelaskan diantara mereka. Sebaliknya, ada hati yang begitu dekat dan tak bisa mereka sangkal saat itu. Namun kedekatan keduanya belum bisa menyatu saat ini, ketika mereka baru menyadari ada rasa yang diam-diam tumbuh tanpa permisi. Bandara Abdul Rahman Saleh ramai. Namun apa yang dirasakan Nathan sangat berbeda. Justru hatinya merasa hampa dan sunyi. Meski keduanya tak seminggu bersama, tapi banyak kenangan yang mereka lalui. Dari Yourissa, Nathan belajar mencintai dan memperhatikan. Sedangkan dari Nathan, Yourissa memahami arti mimpi dan harapan. Arti tentang meyakini kedua hal itu untuk terus maju mengejar mimpi dan harapan. Sebelum berangkat Yourissa memberikan apel kepada Nathan. Yourissa menyuruhnya memejamkan mata dan mengucapkan mimpi mereka bersamaan. Nathan menatap gadis di hadapannya sedang mengucapkan mimpinya. Yourissa membuka matanya dan membalas tatapan Nathan untuk terakhir kalinya. “Aku berangkat dulu ya. Ingat, kamu harus buktiin mimpi kamu”. Nathan melihat Yourissa semakin menjauh, menciptakan jarak yang nyata diantara mereka berdua. Tanpa mereka ketahui, kini mereka punya mimpi yang sama. Semoga kita ketemu lagi

 Oleh: Lilis Mulyanah

Tidak ada komentar:
Write komentar