Minggu, 28 Februari 2016

Review : Nestapa Tahanan Politik Irak

Aku tinggal di negara Irak. Pada tahun masa dimana revolusi Irak berlangsung. Saat ini umurku 16 tahun. Aku tinggal disebuah kota yang mayoritas berbeda-beda agama, namun keluargaku penganut Katolik yang taat. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki, kedua orangtua, dan seorang nenek. Kakakku dan ayahku pergi ke negara lain, kakakku meneruskan perguruan tingginya sedangkan ayahku pergi mencari nafkah untuk kami. Nama asliku Mariena Namet, keluargaku bukan orang yang berada, sehingga kita harus mengatur keperluan dan jatah makan sehari-hari dengan pintar.
Aku masih seorang pelajar. Saat ini sekolahku maupun sekolah-sekolah yang lain masih telihat normal. Namun seiringnya waktu aku merasa bukan berada diseorangku yang dulu. Kini semua mata pelajaran baik pengajarnya pun membahas kepemimpinan Khumaini dan orang-orang yang menentang keras Khumaini dalam berbagai aspek, adapun dalam bentuk kelompok politik, yang seiring disebut kelompok Mujahidin. Adapula yang menentang secara terang-terangan, yang berakhir dengan pertumpahan darah atau banyak pula yang ditangkap dan masuk ke penjara Evin. Aku tidak pernah masuk ke kelompok manapun. Namun aku tidak menyukai peraturan disekolahku saat ini. Siang itu kelasku diisi dengan pelajaran statistika, namun guru yang mengajar mata pelajaran tersebut kembali membahas kepemimpinan Khumaini. Aku yang tidak suka mendengarnya memintanya kembali kedalam pelajaran statistika, karena bagiku bukan waktu yang tepat disaat jam belajar berlangsung beralih ke sebuah kepemimpinan yang mata pelajarannya tidak berkaitan dengan hal tersebut. Alhasil aku dikeluarkan dari kelas.
Aku memulai hariku dengan mengisi mading sekolah dengan tema dunia luar. Bagiku Irak bukan lagi seperti dulu, aku bagai seorang burung yang berada dalam sangkar. Karena Irak tercantum peraturan-peraturan yang asing bagiku. Seperti diharuskan memakai selendang untuk menutupi kepala, dan tidak boleh menyentuh lawan jenis yang bukan muhrim dan pula pada jam 10:00 a.m seluruh rumah harus mematikan lampu-lampu mereka. Tak ada yang berani keluar saat itu, karena saat itu banyak pengeboman dan penangkapan bagi orang yang menentang kepemimpinan Khumaini.
Aku mempunyai teman bernama Sarah, ia teman kecilku dan sampai sekarang aku masih satu sekolah dengannya. Dan kakaknya Shirus seorang politikus penentang kepemimpinan Khumaini, anggota Fedyan. Sarah juga mempunyai teman yang berkelompokkan politik, ia dan temannya mengajakku untuk bergabung namun aku tak menerimanya.
Negara ini semakin asing bagiku, aku senang sekali membaca majalah import. Namun negara ini malah melarang apapun yang berbau luar terutama barat. Aku menemukan seseorang yang sangat kukagumi, ia sering di gereja tempatku beribadah, ia seorang pemain musik disana namanya Andre. Aku hanya mengenal namanya. Karena aku sering kesana jadi lama-kelamaan aku dekat dengannya. Ia sering mengajariku alat musik apapun terutama piano. Aku menatapnya, dan didalam tatapan itu seperti menyimpan harapan dan janji yang suci. Begitulah ia sampai aku tahu bahwa aku mencintainya.
Aku kehilangan nenekku satu-satunya. Aku sangat berduka atas kepergiannya. Ia satu-satunya yang sangat mengerti, dan aku sangat kehilangan dirinya. Andre selalu ada untukku, dan ia bisa membuatku tersenyum kembali.
Sampai hari itu tiba. Dimana raungan Shirinei berbunyi mendekati rumahku. Kala itu aku berada dikamarku. Hanya bertiga dengan ibuku dan orang yang mebantunya dirumah ini. Rumahku tak mempunyai penerang, satu-satunya penerang yang cukup terang didalam rumah ini tungku atau tempat memasak ibuku dan selebihnya disinari dengan pelita-pelita yang rapuh. Sampai mobil-mobil itu berhenti tepat didepan rumahku kemudian mengetuknya, lalu bibi yang membukakannya, dan menanyakanku. Kemudia mencariku, akupun keluar bersama ibuku. Mereka bilang aku masuk dalam daftar buronan orang yang menentang masa kepemimpinan Khumaini.
Saat itulah hidupku berubah 99% derajat. Aku ditangkap malam itu, setelah kuketahui Sarah juga ditangkap lebih dulu empat bulan dariku. Dan aku sekarang berada di Evin, penjara masa kepemimpinan Khumaini. Tidak ada satupun orang yang mengetahui isinya, katanya tempat itu bagai didalam neraka. Selama aku dikirim kesana mataku ditutup selendang hitam kemudian baru dibuka setelah aku memasuki ruangan introgasi. Aku ditanya dan dimintai siapa saja yang terlibat dalam kelompok penentangan. Namun aku tak menjawabnya. Aku diam, tidak mungkin bagiku untuk menjebloskan kakak dari temanku. Dan akhirnya kakiku yang kena sasarannya, orang yang mengintrogasiku mencambukinya sampai ada seseorang yang masuk dan memintanya untuk selesai mengintrogasiku. Ia berkata namanya Ali. Aku tidak peduli, yang aku rasakan hanya memar disekujur kakiku. Aku mulai bisa tertidur karena obat bius.
Hari-hari yang kujalani di Evin begitu buruk. Kami sehari-hari harus meminum the yang telah dicampuri obat, agar tidak menstruasi. Jadi semua orang yang muslim harus beribadah kecuali yang non muslim. Semua orang yang tinggal di Evin tidak pernah melihat cahaya matahari, jadi untuk menentukan hanya ada sebuah seruan memperingatkan kaum Islam beribadah. Disini gelap dan tertutup, hanya ada satu penerang yang menerapkan setia-setiap ruangan dan itupun cahaya yang terdapat temuram.
Aku dipanggil melalui pengeras suara. Setelah memakai penutup mata, aku diantar ke lorong panjang menuju sebuah ruangan. Dan disana pengintrogasianku pun terjadi lagi. Setiap kembali dari ruang introgasi aku tak ingin mengingat apapun, selain ingin cepat tidur. Pemanggilan kedua yang juga melalui pengeras suara. Lalu memakai penutup mata dan begitu seterusnya ada dua orang tahanan didepanku adapula yang belakang mengikutiku. Semua tahanan diperintahkan untuk memegang kain penutup mata yang ada dibelakang tubuh masing-masing para tahanan. Sesampainya disebuah tempat yang terang sehingga aku bisa melihat cahay yang menembus penutup mataku. Ketika penutup masing-masing para tahanan dilepas, aku baru tahu ini sebuah lapangan kecil tempat pengeksekusian. Dan dimasing-masing kepala tahanan diikat kain berwarna merah. Setelah penembakan pertama selesai orang yang disampingku berteriak histeris. Mengatakan dirinya tidak bersalah dan tidak ingin mati. Ia berontak sehingga para tembak menembak kakinya terlebih dahulu. Kemudian ia berhenti dan barulah dua tembakan meluncur dikepalanya. Dan yang ketiga ialah aku. Aku memejamkan mataku, aku tahu hidupku tak berarti di Evin, dan aku pasti tak dibiarkan hidup disini. Percuma jika aku masih hidup pun aku lebih memilih untuk segera mati dan cepat mengakhiri hidupku. Dan setelah juru tembak siap membidik kepalaku dengan dua tembakan peluru, sebuah mobil berjalan dan berdecit, aku masih memejamkan mataku kala itu. Ada dua orang yang sedang berbincang lekas kemudian orang itu memanggil namaku dan membawaku pergi dari tempat itu. Dia adalah Ali. Ali membawaku pergi keluar Evin (dan saat itulah aku melihat tembok-tembok yang mengelilingi Evin dan juga pohon-pohon Mapple yang besar) yang bagiku sebuah keajaiban. Namun aku ragu, untuk apa dia membawaku pergi dari tempat eksekusi. Disepanjang perjalanan kami hanya diam membisu. Sampai ditempat yang menurutku sangat jauh dari Evin.
Ia memulai pembicaraannya yang berkata bahwa hukuman matiku diganti dengan hukuman dipenjara seumur hidup. Aku tidak dapat membayangkan seperti apa kisah hidupku, kuhabiskan hanya mengendap di Evin. Bahwa ia menyukaiku bahkan lebih dari itu. Ia menyayangiku menginginkanku. Aku tersentak dan otakku tak bisa berpikir jernih. Ia bilang bahwa ia akan memperistrikanku, dan berusaha meringankan hukumanku kembali. Karena ayahnya adalah teman dekat Khumaini dan ia bisa memohon pada Khumaini untuk memperistriku sekaligus meringankan hukumanku. Aku hanya diam tak berkata apa-apa padanya. Karena saat ini suaraku tak bia ada yang keluar satupun. Aku shock dan frustasi dengan semua ini.
Aku tidak mencintainya bahkan menyukainya pun tidak. Aku keras menolaknya dan ia berkata akan mengancam kedua orangtuaku dan Andre. Aku tidak tahu kenapa ia bias sejauh itu mengetahui kehidupanku, aku tidak ingin orangtuaku terutama Andre terbawa dalam masalahku ini. Bagiku hidupku semakin buruk.
Aku terpaksa menerimanya. Dan kini aku menjadi istri seorang petinggi di Evin. Namun sebelum itu banyak hal yang telah kulakukan tanpa kemauanku sendiri. Aku masuk Islam sebelum tiga hari pernikahanku dan mengganti namaku menjadi Fatimah, nama ibunya Ali. Ya, aku memilih nama itu karena bagiku ia seperti sangat melindungiku, dan menjagaku seakan-akan aku memang anaknya. Ali memohon kepada Khumaini kesekian kalinya untuk meringankan hukumanku, dan disetujui oleh Khumaini dengan jalur hakim.
Kini hukumanku berkurang jadi tiga tahun di Evin. Ada yang mengejar Ali, sebuah kelompok yang menentang Khumaini. Karena itu aku dan Ali pun jarang keluar Evin dan menetapkan tinggal disana untuk beberapa waktu. Kami semua terutama keluarganya sangat mencemaskan keberadaan Ali saat ini.
Sampai malam itupun tiba. Aku dan Ali pergi kerumah orangtuanya, karena adiknya Ali sedang mengandung. Akupun juga sedang mengandung anaknya. Namun adiknya Ali lebih dulu mengandung dan diperkirakan akhir bulan ini akan melahirkan. Adiknya telah tiga tahun lebih dulu menikah dari Ali dan ini pertama kalinya ia mengandung. Setelah acara makan malam selesai, aku dan Ali keluar rumah orangtuanya untuk memasuki mobil yang terparkir agak jauh dari rumah itu. Ibunya tidak bias mengantarkannya kedepan gerbang karena ia kurang enak badan. Aku dan Ali terus berjalan menuju mobil. Dan ada dua pengendara sepeda motor dengan kekuatan penuh, meluncur dari arah kiri kami. Ali tau apa itu artinya. Ia langsung mendorongku dan aku terjatuh, namun Ali yang tertabrak. Aku menjerit. Semua orang didalam rumah orangtuanya keluar, termasuk ibunya. Semua disana shock, termasuk aku. Dan aku pingsan karena kondisiku sedang hamil. Ali berkata pada ayahnya untuk segera membebaskanku dan memulangkanku kepada orangtuaku.
Setelah itu yang aku rasa hanya sebuah sakit yang tak tertahan. Bayiku meninggal dan Ali pun juga meninggal. Ada rasa sedih yang menyengat dihatiku saat kepergian Ali, walaupun aku tak mencintainya seperti ia mencintaiku. Aku menangis didalam diam. Sepulihnya aku dirumah sakit, adiknya Ali melahirkan. Dan ia menamai anaknya “Ali”. Agar mereka selalu teringat dan tidak merasa kehilangan Ali. Ali kecil yang tampan. Aku kembali ke Evin. Masa muramku disana. Banyak yang terjadi disana sebelum dan setelah aku menikah dengan Ali. Ayah Ali berhasil mengurangi hukumanku menjadi 3 bulan. Dan selama 3 bulan itu aku bertemu dengan teman-temanku dulu di Evin. Sampai batas waktunya, aku dipulangkan kerumahku.
Ibu serta Andre menungguku. Andre setia menantiku sampai aku kembali kerumah. Selama 2 tahun 3 bulan 11 hari aku pernah menjadi seorang tahanan di Evin. Setelah bertemu Andre aku dan ia berencana untuk menikah. Dan ia menerima aku apa adanya. Aku juga mencintainya. Kamipun menikah dan pindah ke Negara Brazil. Selama sebelum aku pindah dari Negara Irak, keluargaku tak ada yang menanyakan sedikitpun tentang Evin. Sampai aku dan Andre pindah ke Brazil, aku menulis semua ingatanku sebelum menikah dengannya. Terutama waktu aku menjadi seorang tawanan di evin. Aku tak berani menceritakannya kepada Andre. Namun saat aku tertidur Andre membaca semua tulisanku. Dan ia memahamiku serta menyayangi dan menjagaku sampai detik ini.
Untuk semua para tahanan Evin dan yang pernah menginjak kaki ditempat itu. Teruslah berjuang untuk sebuah kehidupan, demi meraih mimpi. Meski itu mustahil, tetapi ingat, tidak ada yang mustahil dihidup ini. Teruslah bertarung untuk mendapat hak setiap orang. “Aku disini, Mariena Namet. Semoga kalian bias menggapai kehidupan yang indah. Jangan pernah menyerah wahai teman-temanku…” Terima Kasih

Oleh : Halimatussa'diyah

Tidak ada komentar:
Write komentar