Kamis, 25 Februari 2016

Review : 3600 Detik

Namaku Nanda Nuriah, biasa dipanggil nanda, saya duduk dikelas 6 Mu'allimien.
teman-teman, banyak orang berkata bahwa selalu ada saat pertama untuk semuanya, saya setuju. salah satu contohnya adalah ketika review dari novel pertama saya terbit, ringkasan novel bertajuk "3600 Detik" ini adalah ringkasan novel debut saya dan sebagaimana halnya yang dialami oleh orang lain ketika mengeluarkan ringkasan novel pertama mereka, saya merasa senang, bersyukur, dan bersemangat dalam satu waktu yang bersamaan.
Pertama-tama, tentu saja saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Allah swt, tuhan seru sekalian alam, karena apa yang bisa terjadi di dunia ini tanpa izinnya? ucapan terimakasih juga senantiasa saya sampaikan kepaada pendidik saya, Kak Fannil Abror yang mana beliau telah mengajarkan saya tata cara menulis dengan baik sehingga saya dapat merangkum novel ini dengan baik pula (Insya Allah). Berikutnya, saya juga ingin mengucapkan terimakasih kepada sleuruh teman-teman saya, yang mana mereka juga telah senantiasa mendukung saya untuk mengeluarkan review novel ini.
Terimakasih karena telah menyediakan 3600 detik waktumu untukku. Aku takkan melupakannya seumur hidupku.
Aku benci hidupku!!
Sandra berteriak dalam hati sambil memandang langit-langit ruang olahraga, Dia tidak tahu sudah berapa lama dia disana. Tangan kanannya memegang rokok, dia merokok sambil duduk ditepi jendela, mencoba mengingat sudah berapa banyak rokok yang dihisapnya, terus terang dia tidak ingat. sama seperti dia tidak ingat sudah berapa banyak sekolahan yang ia masuki sejak tahun lalu. Semuanya tidak pernah bertahan dalam 10 hari.

Sandra sudah tidak pernah mau memperdulikan apapun lagi semenjak ayahnya bercerai dengan ibunya satu tahun lalu. Padahal dia sangat dekat dengan ayahnya, dia sama sekali tidak tahu kalau hubungan orang tuanya bermasalah. Papa menjelaskan bahwa papa ingin cerai dan pergi meninggalkan mama.
Pada saat yang bersamaan, ditempat lain. Leon berjalan memasuki panggung dengan langkah perlahan. didepannya para juri yang melihatnya dengan seksama, serta ratusan penonton yang menyaksikannya, lalu leon pun duduk dengan tenang meletakkan tangannya dia tas tuts, perlahan-lahan dia mulai memainkan musik canon in o-pachebel dan musik pun melalun terdengar keseluruh gudang.
Dari dulu sandra tidak pernah dekat dengan mamanya, mama sering tidak dirumah, sibuk dengan pekerjaan kantornya. teman tempat berbagi cerita yaitu papa. jadi ketika papa pergi, didunia sandra menjadi hancur. Dua minggu lamanya sandra mengurung diri, keluar kamar kalau mau minum, makan ia beli diluar, tidak bicara, tidak sekolah. Dua minggu berlalu, sandra mulai keluar kamar, tapi pribadina berubah total. Dia memang sekolah, tapi mulai membolos sekolah, belajar merokok dan pergi ke klub hingga dini hari. Semua orang kini menjauhinya, dan sandrapun harus meninggalkan sekolah lamanya dan menempati sekolah yang baru, namun tidak ada sekolahpun yang mampu menampung sandra lebih dari 10 hari karena kelakuannya yang semakin memburuk itu, para guru sudah memberi hukuman separah apapun, malah hal itu membuatnya lebih nakal lagi.
Alunan lagu yang dimainkan leoin membuat semua penonton terpana, mama dan papanya yang berada diantara penonton menatap anak mereka dengan bangga, diatas panggung leon memainkan pianonya dengan serius. Para juri terlihat mengangguk tanda setuju dan berbisik perlahan satu sama lain. leo menyelesaikan permainannya dengan sempurna. tepuk tangan penonton terdengar sangat keras, saat leon berdiri di depan panggung menerima piala sebagai pemenang pertama lomba piano nasional, mama menangis bangga sementara papa tersenyum padanya, leon menyalami juri sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Saat haru pertama sandra memasuki sekolahnya, sebenarnya sandra merasa bosan karna harus selalu pindah kemudian mengulang pelajaran yang sama ditahun ini, sandra berhenti di lorong kelas barunya.
"Jadi ini sekolah baruku" katanya dalam hati.
saat itu sandra berfikir bahwa ia yakin tidak akan bertahan lama disekolah itu sampai 10 hari, tiba-tiba telinganya menangkap suara merdu dari kelas musik. suara piano itu sangat penih dan indah, membuat sandra bergerak mendekati.
Didalam ruangan itu dia melihat sesosok lelaki yang sedang memainkan piano, seolah ada yang memperhatikannya, pemain piano tersebut menolah kbelakang, tatapannya bertemu dengan sandra. Dia tersenyum, Sandra balas tersenyum sambil menyapa "hai".
Leon balas dengan senyum ramahnya seraya menjawab "hai juga".
sandra memperhatikan penampilan leon dari atas hingga ujung kaki, "Tipe anak yang baik" desahnya dalam hati.
"Eh kau murid baru ya?" tanya leon "Rasanya aku belum pernah melihatmu".
Sandra tersenyum kecil "Ya, aku baru pindah hari ini".
"kalau begitu selamat datang" katanya lagi
"gak usah bersikap ramah!" tegas sandra kemudian leon kaget
"kenapa?" sandra menatap tajam. "Kau akan tahu satu atau dua minggu lagi, saat kau mengucapkan selamat tinggal padaku!"
Ketika bel tanda masuk berbunyi, sandra melenggang masuk kelas dengan santai. teman-teman sekelasnya menoleh kearahnya dengan tatapan ingin tahu sandra yakin pasti mereka akan membicarakan dirinya seharian ini.
Pak donny, guru wali kelas 3 IPA2 yang juga guru fisika, mengenalkan sandra pada teman-teman sekelasnya.
"Ada yang mau kau sampaikan, sandra?" lanjut pak donny
sandra menjawab singkat "tidak!"
"baiklah" pak donny menyerah "kau boleh duduk".
penulisan ini masih berlanjut ... 

Tidak ada komentar:
Write komentar